Wednesday, September 25, 2013

2013 - Quickoffice - Quickoffice .inc

Saatnya aplikasi pengolah Microsoft Office gratis berada dalam genggaman kalian. 


Quickoffice memang sudah bukan nama yang asing dalam ranah aplikasi pengolah Microsoft Office. Beberapa dari kita mungkin pernah menggunakan aplikasi gratis ini di Desktop PC atau Notebook dalam keseharian bekerja di kantor sebagai pengganti aplikasi Microsoft Office yang berbayar. 

Aplikasi semacam ini memberikan solusi alternatif bagi kita yang ingin mengoptimalisasi penggunaan smartphonenya terutama para pengguna smartphone yang berbasis sistem operasi iOS yang dihadapkan dengan aplikasi pengolah Microsoft Office yang umumnya berbayar. 

Walaupun tidak berbayar, aplikasi ini tidak terkesan murahan. Tampilan grafisnya memang sederhana namun cukup mumpuni untuk mengolah dokumen .doc, .xls dan .ppt dengan format sederhana seperti pengaturan font dan paragraf. 

Beberapa hal yang saya kira menarik dalam mengolah dokumen .doc adalah terdapatnya fungsi find and replace yang terletak dibagian bawah dengan logo kaca pembesar. Fungsi lainnya yang tidak kalah menarik adalah fungsi track changes dan comment yang berguna bagi saya karena selalu berhadapan dengan editor.

Integrasi dengan Google Drive pun terasa sangat membantu untuk saya yang sedang mulai membiasakan diri untuk menyimpan beberapa data di cloud server. Satu hal yang belum saya temui pada aplikasi Quickoffice ini adalah fungsi insert picture yang cukup penting. Semoga pada update berikutnya pihak developer akan mempertimbangkan untuk memasukkan fungsi tersebut. 




Dhoni Saputra

Wednesday, September 18, 2013

2013 - Horizon Calendar - iOS - Applause Code, LLC


Bosan dengan aplikasi Calendar bawaan dari iOS? Aplikasi ini bisa menjadi alternatif mengobati kebosanan anda. Aplikasi yang dikembangkan oleh Applause Code ini memberikan sebuah pengalaman mengelola kalender dengan desain dan tata letak yang manis.
Penataan secara horizontal yang rapih dengan desain minimalis dan bersih membuat sangat nyaman untuk menelusuri event dari kalender saya. 
Beberapa fungsi seperti new event, location, calendar (pilihan akun kalender yang kita miliki) yang ada di aplikasi native calendar tetap dipertahankan, namun sepertinya pihak Applause Code sebagai pengembang melupakan menu invitees yang saya rasa cukup penting. Mungkin hal ini tidak dijadikan prioritas bagi mereka.

Hal yang patut diapresiasi adalah optimalisasi penggunaan slide down untuk memunculkan tampilan kalender utuh 1 bulan, berubahnya tema jika waktu sudah malam dan satu lagi adalah terintegrasinya fungsi weather yang memberikan pengalaman lebih di aplikasi ini.

Jadi, jika kita sudah mulai bosan dengan aplikasi Calendar App milik Apple, Horizon bisa dijadikan salah satu alternatif anda.

Tautan untuk mengunduh: https://itunes.apple.com/us/app/horizon-calendar/id593206559?mt=8
Dhoni Saputra

Wednesday, September 11, 2013

Teror Orde Baru

Penyelewengan Hukum & Propaganda 1965-1981
Julie Southwood & Patrick Flanagan


Saya adalah seorang yang sangat tertarik dengan sejarah Indonesia era Orde Baru, maka ketika saya mendengar kabar bahwa Komunitas Bambu berniat menerjemahkan dan menerbitkan buku “Indonesia; Law, Propaganda and Terror” karya Julie Southwood dan Patrick Flanagan akhir 2012 lalu, saya langsung memasukan buku tersebut sebagai prioritas untuk dibeli. Awalnya buku ini diberi judul “Teror Soeharto” namun entah mengapa tidak berapa lama Komunitas Bambu mengganti judulnya dengan “Teror Orde Baru: Penyelewengan Hukum dan Propaganda 1965-1981” (kabar yang saya dengar pihak distributor menolak mendistribusikan buku dan menaruh di toko-toko mereka jika judulnya masih “Teror Soeharto”). 

Buku Teror Orde Baru adalah satu-satunya buku yang membahas secara komprehensif soal peran Kopkamtib sebuah lembaga jaringan keamanan intelijen rahasia dalam mengendalikan dan mengawasi sistem kekuasaan Orde Baru. Inilah yang membedakan buku ini dari buku-buku lain yang mengupas tentang Orde Baru seperti yang ditulis oleh David Jenkins atau Michael Wood. 

Buku ini dimulai dengan analisa mengenai Gerakan 30 September 65 (Gestok) dengan berbagai skenarionya, ‘percobaan kudeta’ yang menurut sejarah resmi Orde Baru didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Ujung dari ‘percobaan kudeta’ lantas mengakhiri kekuasaan Soekarno. Peristiwa inilah yang tidak hanya menewaskan ratusan ribu korban yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan politik, tetapi juga menandai lahirnya sistem politik otoritarian dan represi tanpa preseden di Indonesia. Setelah itu buku ini juga mengupas secara dalam bagaimana rezim Orde Baru memanipulasi sistem hukum dan menggunakan teror dan propaganda untuk melanggengkan kekuasaan. 

Julie Southwood dan Patrick Flanagan tidak hanya memeriksa struktur kekuasaan Orde Baru tetapi juga mengkritisi gerakan-gerakan oposisi terhadap Orde Baru yang datang dari elemen-elemen kolaborator kritis seperti LBH dan mahasiswa. Mencatat bagaimana kolaborator kritis juga selalu menemui kebuntuan ketika berhadapan dengan rezim. Salah satu catatan yang menarik misalnya, pembelaan-pembelaan yang dilakukan oleh Lembaga Bantuan Hukum Indonesia terhadap korban viktimisasi Orde Baru. LBH sering kali memang sangat kritis terhadap rezim namun pendekatannya yang sangat postivis juga dikritik, bagaimana mungkin memperjuangkan keadilan di dalam sistem yang jelas-jelas tidak pernah mempertimbangkan keadilan sebagai salah satu prinsipnya. 

Satu hal yang patut disayangkan dari buku ini adalah tidak sempat merekam peristiwa-peristiwa teror dan propaganda yang dilakukan rezim Orde Baru di tahun 1980-an era pasca oil booming dimana saat itu rezim justru meningkatkan represifitasnya. Kedung Ombo, Tanjung Priok, Petrus adalah beberapa contoh peristiwa yang mencederai hak asasi manusia yang dilakukan rezim Orde Baru di tahun 1980-an. Sebagai catatan buku ini memang pertama kali diterbitkan tahun 1983. 

Buku yang ditulis 30 tahun yang lalu ini masih menemukan relevansinya di Indonesia era Reformasi, karena jika diperhatikan struktur dan moda kekuasaan Orde Baru masih tertanam kuat sampai hari ini. Satu contoh misalnya di bidang penyiaran, melalui UU Penyiaran tahun 2002 bisa dikatakan Pemerintah melalui Kemenkominfo berhasil mendapatkan kembali kontrol terhadap media penyiaran yang sempat terkikis pada awal Reformasi. Kemenkominfo saat ini seharusnya akan mengingatkan kita pada sepak terjang Departemen Penerangan di era Orde Baru. 

Sekali lagi Julie Southwood dan Patrick Flanagan bukanlah sarjana Indonesianis namun lewat karyanya ini mereka telah berhasil menelanjangi struktur kekuasaan Orde Baru yang berputar di orbit Soeharto dan para kroninya. Buku “Teror Orde Baru” ini bisa menjadi sebuah buku panduan untuk mereka yang tertarik membangun sebuah rezim otoriter.





Reza Adhiatma

Wednesday, August 14, 2013

Soylent Green

Biskuit Hijau Penyelamat Manusia

1973 - Soylent Green - Richard Fleischer 


Sedikit berbicara mengenai isu perekonomian yang terjadi di negara kita baru-baru ini, yaitu mengenai kenaikan harga bahan bakar, itu sebenarnya adalah sesuatu yang pasti akan terjadi, dan kita tahu akan terjadi. Hanya masalah waktu saja. Waktu kita SD dulu kita belajar mengenai sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan tidak. Film sci-fi berjudul Soylent Green ini menceritakan era dimana makanan sudah menjadi barang langka. 

Ber-setting di New York, tahun 2022, dimana populasi manusia sangat tinggi, dan bumi menjadi penuh. New York diceritakan berpopulasi 40 juta manusia. Suhu bumi semakin panas, dan polusi tidak terkontrol. Sayuran, daging sapi, air bersih, sabun, menjadi barang mahal. Harga selai stroberi bernilai 150 dolar. 

Sebuah korporasi besar bernama Soylent Corporation, memonopoli kebutuhan pangan masyarakat dengan memproduksi makanan berbentuk biskuit, atau sebutannya “Soylent”, yang terbuat dari soy dan lentils (kacang-kacangan). Soylent Red dan Soylent Yellow pun semakin menipis persediaannya, dan kemudian Soylent Corporation “merilis” produk baru mereka: Soylent Green, terbuat dari high energy plankton. 


Seorang petinggi Soylent Corporation bernama William Simonson (Joseph Cotten) kemudian meninggal karena dibunuh di apartemennya. Kasus pembunuhan tersebut lalu diselidiki oleh detektif Robert Thorn (Charlton Heston). Penyelidikan Thorn terhadap kasus itu sedikit demi sedikit menguak rahasia dari Soylent Corporation. 

Adalah karakter Solomon Roth (Edward Robinson), atau biasa dipanggil Sol, teman dekat Thorn, dan membantu Thorn dalam penyelidikan kasus pembunuhan Simonson. Ia adalah orang tua yang ‘tersisa’ dari generasi yang pernah melihat rerumputan, merasakan daging hewan ‘asli’, melihat sungai, dan lain-lain. Ia sering menceritakan hal-hal tersebut kepada Thorn, dan itu sudah seperti dongeng saja bagi Thorn. Sangat sulit bagi Thorn untuk percaya dengan ‘dongeng-dongeng’ Sol. Agak miris jika membayangkan itu mungkin akan terjadi pada generasi-generasi selanjutnya di muka bumi ini. 

Film ini diadaptasi dari novel berjudul Make Room! Make Room! karangan Harry Harrison yang diterbitkan tahun 1966. Cukup jauh pandangan penulis mengenai bumi yang over crowded, global warming, dan penipisan sumber daya alam. Ia sudah mengkhawatirkan itu semua dari tahun 1966, sementara kita (masih) marak-maraknya mengangkat isu tersebut sampai tahun 2013 ini. 

Setting film ini adalah tahun 2022. Semakin dekat dari hari ini. Sangat ngeri jika membayangkan masa itu akan segera terjadi. Tapi jujur saja, sedikit yang bisa saya lakukan. Saya tidak mau hidup hanya dengan makan crackers, tapi buktinya sekarang saya masih picky terhadap makanan. Manusia adalah monster, dan monster ini tumbuh menjadi semakin banyak. Jika memang ingin terus bertahan, mungkin memang yang terbaik adalah we have to eat each other. 




Melly Aprianty

Wednesday, July 24, 2013

Merek Indonesia Harus Bisa

Judul : “Merek Indonesia Harus Bisa”
Penulis : Arto Soebiantoro
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo



Buku yang berjudul “Merek Indonesia Harus Bisa” ini ditulis oleh Arto Soebiantoro, seorang praktisi pengembangan merek lokal dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang cukup panjang di dunia periklanan. Persinggungannya dengan banyak orang menyebabkan dirinya memiliki pemahaman yang kompehensif mengenai bagaimana suatu produk dikembangkan sehingga menjadi suatu brand yang kuat.

Secara keseluruhan, buku ini dapat dikatakan merupakan buku panduan komprehensif mengenai cara membangun merek, namun dikemas dengan gaya populer dan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Setting penulisan diawali dengan kondisi dunia yang berubah, yang menyebabkan tantangan dalam bisnis pun berubah secara dinamis dan semakin keras. Pelaku usaha harus senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungan usaha yang berubah tersebut. Untuk memenangkan persaingan, suatu produk haruslah membangun merek dengan tujuan akhir mempengaruhi persepsi konsumen.

Buku ini secara gamblang dan rinci menjelaskan beragam benefit yang dapat diperoleh dari dimilikinya merek yang kuat. Upaya untuk memberikan pemahaman perihal berbagai aspek internal dalam pembangunan merek pun dijelaskan secara rinci namun ringan. Beberapa hal yang penting untuk dikemukakan diantaranya adalah tentang pentingnya peran merek sebagai pembeda (diferensiasi), perlunya sikap konsisten pelaku usaha, serta peran signifikan kredibilitas pelaku usaha. Paparan dalam bagian ini menjadi semakin menarik dan lengkap karena memuat berbagai masukan, pandangan dan contoh-contoh dari beberapa pihak yang kompeten, yaitu Yongky Surya Susilo (Executive Director The Nielsen Company), Andy Noya (pengasuh acara Kick Andy), dan Ade Rai.

Roh utama dalam buku ini tertuang dalam Bab 4, yaitu paparan rinci mengenai tahapan dalam membangun merek yaitu Fondasi, Komunikasi dan Evaluasi. Fondasi utamanya terkait dengan aspek manajemen praktis, Komunikasi banyak berhubungan dengan aspek pembentukan identitas merek (brand identity) dan strategi penyampaian pesan (message) kepada konsumen, sedangkan Evaluasi diperlukan sebagai sarana untuk mengukur keberhasilan proses pembangunan merek dan mengambil langkah-langkah perbaikan ataupun penyempurnaan.

Secara keseluruhan, materi yang tertuang dalam buku ini dirasa perlu untuk diketahui oleh para pelaku usaha, baik skala UMKM maupun skala korporasi, sebagai salah satu referensi dalam menyusun strategi bisnis perusahaan.




Reza Adhiatma

Wednesday, July 17, 2013

JKT 48 - Heavy Rotation

2013 - Heavy Rotation - JKT 48



Kuulang terus tanpa henti twenty four hours a day 

Jujur saja, terkadang yang saya perlukan di dunia yang fana ini terkadang hanyalah hiburan. Terkadang saya, mungkin juga pembaca sekalian, seringkali sedang tidak ingin berpikir terlalu dalam. Karena itu saya lebih suka Opera Van Java ketimbang Stand Up Comedy yang membuat kita berpikir sebelum tertawa. Dan akhir-akhir ini saya merasa sangat terhibur dengan JKT48. Berikan pada saya alasan untuk tidak menggandrungi sekelompok gadis menarik yang bernyanyi lagu-lagu catchy dan menari diatas panggung dengan semangat, inilah hiburan dalam arti hiburan yang sesungguhnya. 

Oke, memang sebelum JKT48 saya memang sudah terlebih dahulu suka dengan (older) sister group mereka AKB48. Tetapi permasalahan AKB48 (dan lagu non-Inggris atau Bahasa Indonesia lainnya) saya tidak mengerti apa yang mereka nyanyikan, dan JKT48 menawarkan versi bahasa Indonesia dari lagu-lagu favorit saya seperti Shonichi atau Kimi No Koto Ga Suki Dakara, karena itu ketika album Heavy Rotation akhirnya rilis saya merasa harus memilikinya. 

Heavy Rotation berisi 10 track yang merupakan terjemahan dari lagu-lagu AKB48 (dan satu lagu SKE48). Saat pertama mendengarkan lagu-lagunya, well semua seperti yang saya harapkan, catchy as hell dan membuat kita joged-joged kecil. Namun, kali ini saya mengerti apa yang mereka nyanyikan tanpa harus googling terlebih dahulu, which is good, karena apalah artinya lagu pop yang catchy kalau saya tidak merasakan ikatan emosional dengan lagu tersebut, dan saya selalu beranggapan lirik adalah jembatan emosional yang paling mudah antara musik dengan pendengar. Setelah mendengarkan satu album secara penuh, saya makin ada keterkaitan emosi dengan lagu-lagu mulai dari Heavy Rotation sampai Hikoukigumo. I finally understood these songs fully, bukan cuma ikut nyanyi pas refrain saja. 

Teman saya yang bisa bahasa Jepang dengan cukup fasih mengatakan terjemahan liriknya aneh. Namun saya tumbuh besar dengan lagu-lagu anime yang didubbing jadi saya tidak terlalu merasa ada yang janggal pada lirik-liriknya. Mungkin memang secara kaidah bahasa Indonesia atau paraphrasing lagu-lagu ini agak janggal, tapi siapa peduli? Maksud mereka tersampaikan dan saya bisa bernyanyi bersama, itu sudah cukup. 

Kalau Anda sudah suka dengan AKB48 (seperti saya), dan juga tidak mengerti bahasa Jepang (seperti saya juga) kemungkinan besar Anda akan suka album Heavy Rotation-nya Jeketi fourtyeito. 

Bagian bridge Heavy Rotation mungkin menggambarkan perasaan saya terhadap album ini: 

Yang selalu ku dengarkan favorite song/ 
Seperti lagu yang ku suka/ 
Ku ulang terus tanpa henti twenty four hours a day/ 
Oh baby the only request is you// (dalam konteks ini The only request is them) 




Deni Taufiq Adi

Thursday, July 11, 2013

Komuter

2013 - Komuter - iOS

KOMUTER merupakan sebuah aplikasi yang sangat berguna dan ditunggu-tunggu oleh para ROKER (Rombongan Kereta). Fungsi seperti interaksi sesama pengguna KRL (Kereta Rangkaian Listrik), jadwal harian KRL, rute perjalanan dan fungsi posting yang terintegrasi dengan akun Twitter memang cukup membantu mobilisasi para ROKER.

Beberapa pengembang aplikasi di Indonesia telah banyak menghasilkan aplikasi serupa di platform Android, namun belum banyak yang melakukannya di iOS. Menurut saya baru aplikasi KOMUTER ini yang berhasil lolos seleksi Apple Store. Apa karena para pengembangnya merupakan pemain lama? Mungkin saja. Yang pasti adalah kita patut memberikan bintang lima dan dukungan sebesar-besarnya pada aplikasi buatan Indonesia.

Secara keseluruhan, aplikasi ini memberikan kemudahan akses informasi yang sangat dibutuhkan oleh pengguna jasa KRL. Yang sangat disayangkan adalah mengapa aplikasi ini tidak terdokumentasi oleh pihak Commuter? Mungkin jika aplikasi ini didukung oleh database forum pengguna KRL seperti krlmania.com, pengembangan aplikasi ini akan menjadi lebih baik dari segi interaksi dan informasinya.




Dhoni Saputra

Featured Games

JuxtaReview © 2014 - Designed by Templateism.com, Plugins By MyBloggerLab.com