Wednesday, August 14, 2013

Soylent Green

Biskuit Hijau Penyelamat Manusia

1973 - Soylent Green - Richard Fleischer 


Sedikit berbicara mengenai isu perekonomian yang terjadi di negara kita baru-baru ini, yaitu mengenai kenaikan harga bahan bakar, itu sebenarnya adalah sesuatu yang pasti akan terjadi, dan kita tahu akan terjadi. Hanya masalah waktu saja. Waktu kita SD dulu kita belajar mengenai sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan tidak. Film sci-fi berjudul Soylent Green ini menceritakan era dimana makanan sudah menjadi barang langka. 

Ber-setting di New York, tahun 2022, dimana populasi manusia sangat tinggi, dan bumi menjadi penuh. New York diceritakan berpopulasi 40 juta manusia. Suhu bumi semakin panas, dan polusi tidak terkontrol. Sayuran, daging sapi, air bersih, sabun, menjadi barang mahal. Harga selai stroberi bernilai 150 dolar. 

Sebuah korporasi besar bernama Soylent Corporation, memonopoli kebutuhan pangan masyarakat dengan memproduksi makanan berbentuk biskuit, atau sebutannya “Soylent”, yang terbuat dari soy dan lentils (kacang-kacangan). Soylent Red dan Soylent Yellow pun semakin menipis persediaannya, dan kemudian Soylent Corporation “merilis” produk baru mereka: Soylent Green, terbuat dari high energy plankton. 


Seorang petinggi Soylent Corporation bernama William Simonson (Joseph Cotten) kemudian meninggal karena dibunuh di apartemennya. Kasus pembunuhan tersebut lalu diselidiki oleh detektif Robert Thorn (Charlton Heston). Penyelidikan Thorn terhadap kasus itu sedikit demi sedikit menguak rahasia dari Soylent Corporation. 

Adalah karakter Solomon Roth (Edward Robinson), atau biasa dipanggil Sol, teman dekat Thorn, dan membantu Thorn dalam penyelidikan kasus pembunuhan Simonson. Ia adalah orang tua yang ‘tersisa’ dari generasi yang pernah melihat rerumputan, merasakan daging hewan ‘asli’, melihat sungai, dan lain-lain. Ia sering menceritakan hal-hal tersebut kepada Thorn, dan itu sudah seperti dongeng saja bagi Thorn. Sangat sulit bagi Thorn untuk percaya dengan ‘dongeng-dongeng’ Sol. Agak miris jika membayangkan itu mungkin akan terjadi pada generasi-generasi selanjutnya di muka bumi ini. 

Film ini diadaptasi dari novel berjudul Make Room! Make Room! karangan Harry Harrison yang diterbitkan tahun 1966. Cukup jauh pandangan penulis mengenai bumi yang over crowded, global warming, dan penipisan sumber daya alam. Ia sudah mengkhawatirkan itu semua dari tahun 1966, sementara kita (masih) marak-maraknya mengangkat isu tersebut sampai tahun 2013 ini. 

Setting film ini adalah tahun 2022. Semakin dekat dari hari ini. Sangat ngeri jika membayangkan masa itu akan segera terjadi. Tapi jujur saja, sedikit yang bisa saya lakukan. Saya tidak mau hidup hanya dengan makan crackers, tapi buktinya sekarang saya masih picky terhadap makanan. Manusia adalah monster, dan monster ini tumbuh menjadi semakin banyak. Jika memang ingin terus bertahan, mungkin memang yang terbaik adalah we have to eat each other. 




Melly Aprianty

0 comments:

Post a Comment

Featured Games

JuxtaReview © 2014 - Designed by Templateism.com, Plugins By MyBloggerLab.com