Wednesday, July 24, 2013

Merek Indonesia Harus Bisa

Judul : “Merek Indonesia Harus Bisa”
Penulis : Arto Soebiantoro
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo



Buku yang berjudul “Merek Indonesia Harus Bisa” ini ditulis oleh Arto Soebiantoro, seorang praktisi pengembangan merek lokal dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang cukup panjang di dunia periklanan. Persinggungannya dengan banyak orang menyebabkan dirinya memiliki pemahaman yang kompehensif mengenai bagaimana suatu produk dikembangkan sehingga menjadi suatu brand yang kuat.

Secara keseluruhan, buku ini dapat dikatakan merupakan buku panduan komprehensif mengenai cara membangun merek, namun dikemas dengan gaya populer dan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Setting penulisan diawali dengan kondisi dunia yang berubah, yang menyebabkan tantangan dalam bisnis pun berubah secara dinamis dan semakin keras. Pelaku usaha harus senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungan usaha yang berubah tersebut. Untuk memenangkan persaingan, suatu produk haruslah membangun merek dengan tujuan akhir mempengaruhi persepsi konsumen.

Buku ini secara gamblang dan rinci menjelaskan beragam benefit yang dapat diperoleh dari dimilikinya merek yang kuat. Upaya untuk memberikan pemahaman perihal berbagai aspek internal dalam pembangunan merek pun dijelaskan secara rinci namun ringan. Beberapa hal yang penting untuk dikemukakan diantaranya adalah tentang pentingnya peran merek sebagai pembeda (diferensiasi), perlunya sikap konsisten pelaku usaha, serta peran signifikan kredibilitas pelaku usaha. Paparan dalam bagian ini menjadi semakin menarik dan lengkap karena memuat berbagai masukan, pandangan dan contoh-contoh dari beberapa pihak yang kompeten, yaitu Yongky Surya Susilo (Executive Director The Nielsen Company), Andy Noya (pengasuh acara Kick Andy), dan Ade Rai.

Roh utama dalam buku ini tertuang dalam Bab 4, yaitu paparan rinci mengenai tahapan dalam membangun merek yaitu Fondasi, Komunikasi dan Evaluasi. Fondasi utamanya terkait dengan aspek manajemen praktis, Komunikasi banyak berhubungan dengan aspek pembentukan identitas merek (brand identity) dan strategi penyampaian pesan (message) kepada konsumen, sedangkan Evaluasi diperlukan sebagai sarana untuk mengukur keberhasilan proses pembangunan merek dan mengambil langkah-langkah perbaikan ataupun penyempurnaan.

Secara keseluruhan, materi yang tertuang dalam buku ini dirasa perlu untuk diketahui oleh para pelaku usaha, baik skala UMKM maupun skala korporasi, sebagai salah satu referensi dalam menyusun strategi bisnis perusahaan.




Reza Adhiatma

Wednesday, July 17, 2013

JKT 48 - Heavy Rotation

2013 - Heavy Rotation - JKT 48



Kuulang terus tanpa henti twenty four hours a day 

Jujur saja, terkadang yang saya perlukan di dunia yang fana ini terkadang hanyalah hiburan. Terkadang saya, mungkin juga pembaca sekalian, seringkali sedang tidak ingin berpikir terlalu dalam. Karena itu saya lebih suka Opera Van Java ketimbang Stand Up Comedy yang membuat kita berpikir sebelum tertawa. Dan akhir-akhir ini saya merasa sangat terhibur dengan JKT48. Berikan pada saya alasan untuk tidak menggandrungi sekelompok gadis menarik yang bernyanyi lagu-lagu catchy dan menari diatas panggung dengan semangat, inilah hiburan dalam arti hiburan yang sesungguhnya. 

Oke, memang sebelum JKT48 saya memang sudah terlebih dahulu suka dengan (older) sister group mereka AKB48. Tetapi permasalahan AKB48 (dan lagu non-Inggris atau Bahasa Indonesia lainnya) saya tidak mengerti apa yang mereka nyanyikan, dan JKT48 menawarkan versi bahasa Indonesia dari lagu-lagu favorit saya seperti Shonichi atau Kimi No Koto Ga Suki Dakara, karena itu ketika album Heavy Rotation akhirnya rilis saya merasa harus memilikinya. 

Heavy Rotation berisi 10 track yang merupakan terjemahan dari lagu-lagu AKB48 (dan satu lagu SKE48). Saat pertama mendengarkan lagu-lagunya, well semua seperti yang saya harapkan, catchy as hell dan membuat kita joged-joged kecil. Namun, kali ini saya mengerti apa yang mereka nyanyikan tanpa harus googling terlebih dahulu, which is good, karena apalah artinya lagu pop yang catchy kalau saya tidak merasakan ikatan emosional dengan lagu tersebut, dan saya selalu beranggapan lirik adalah jembatan emosional yang paling mudah antara musik dengan pendengar. Setelah mendengarkan satu album secara penuh, saya makin ada keterkaitan emosi dengan lagu-lagu mulai dari Heavy Rotation sampai Hikoukigumo. I finally understood these songs fully, bukan cuma ikut nyanyi pas refrain saja. 

Teman saya yang bisa bahasa Jepang dengan cukup fasih mengatakan terjemahan liriknya aneh. Namun saya tumbuh besar dengan lagu-lagu anime yang didubbing jadi saya tidak terlalu merasa ada yang janggal pada lirik-liriknya. Mungkin memang secara kaidah bahasa Indonesia atau paraphrasing lagu-lagu ini agak janggal, tapi siapa peduli? Maksud mereka tersampaikan dan saya bisa bernyanyi bersama, itu sudah cukup. 

Kalau Anda sudah suka dengan AKB48 (seperti saya), dan juga tidak mengerti bahasa Jepang (seperti saya juga) kemungkinan besar Anda akan suka album Heavy Rotation-nya Jeketi fourtyeito. 

Bagian bridge Heavy Rotation mungkin menggambarkan perasaan saya terhadap album ini: 

Yang selalu ku dengarkan favorite song/ 
Seperti lagu yang ku suka/ 
Ku ulang terus tanpa henti twenty four hours a day/ 
Oh baby the only request is you// (dalam konteks ini The only request is them) 




Deni Taufiq Adi

Thursday, July 11, 2013

Komuter

2013 - Komuter - iOS

KOMUTER merupakan sebuah aplikasi yang sangat berguna dan ditunggu-tunggu oleh para ROKER (Rombongan Kereta). Fungsi seperti interaksi sesama pengguna KRL (Kereta Rangkaian Listrik), jadwal harian KRL, rute perjalanan dan fungsi posting yang terintegrasi dengan akun Twitter memang cukup membantu mobilisasi para ROKER.

Beberapa pengembang aplikasi di Indonesia telah banyak menghasilkan aplikasi serupa di platform Android, namun belum banyak yang melakukannya di iOS. Menurut saya baru aplikasi KOMUTER ini yang berhasil lolos seleksi Apple Store. Apa karena para pengembangnya merupakan pemain lama? Mungkin saja. Yang pasti adalah kita patut memberikan bintang lima dan dukungan sebesar-besarnya pada aplikasi buatan Indonesia.

Secara keseluruhan, aplikasi ini memberikan kemudahan akses informasi yang sangat dibutuhkan oleh pengguna jasa KRL. Yang sangat disayangkan adalah mengapa aplikasi ini tidak terdokumentasi oleh pihak Commuter? Mungkin jika aplikasi ini didukung oleh database forum pengguna KRL seperti krlmania.com, pengembangan aplikasi ini akan menjadi lebih baik dari segi interaksi dan informasinya.




Dhoni Saputra

Thursday, July 4, 2013

Hannibal Lecter

Hannibal Lecter adalah nama yang bisa membuat perasaan bergidik muncul, perasaan bergairah, perasaan ingin menutup pintu dan memandang ke arah jendela terus menerus. Paling tidak begitulah yang saya rasakan waktu menonton film ini, rasa menikmati dan rasa ketakutan yang muncul sama besarnya.

Apa yang terlintas ketika mendengar nama ini? Psikopat Jenius? Pembunuh gila? Bagi saya yang terlintas pertama kali adalah Anthony Hopkins. Makanya ketika mendengar film ini dibuat TV seriesnya ada perasaan ragu sekaligus perasaan harus nonton! Dan kenyataannya, saya menonton Hannibal TV series sudah sampai episode ke 10.

Bagaimana saya melihat Mads Mikkelsen sebagai Hannibal? Kekecewaan pertama saya ketika melihat tokoh Hannibal muncul adalah: kenapa wajahnya kotak? Bagaimanapun buat saya seorang serial killer (yang kebetulan sudah diperankan Hopkins dengan baik) tidak boleh menimbulkan perasaan bahwa orang ini secara fisik sudah “berbeda” sehingga mudah dikenali. Kalo bahasa saya susah maka saya akan coba dalam bentuk lain. Hannibal yang ini seperti punya suku yang berbeda. “Pembunuhnya Batak soalnya mukanya kotak, China soalnya matanya sipit”. Itu yang ditangkap oleh mata saya pertama kali saat melihat Hannibal Mads Mikkelsen. Bahwa selewat pandang saja kita akan mengenali dia secara fisik, bukan secara karakter. Mungkin tidak penting dibahas karena tidak signifikan juga. Toh bagaimanapun juga orang Batak atau China tadi bisa jadi pembunuh, bisa juga bukan. Tapi itulah kesan pertama saya.

Kedua, senyuman nakal yang diselipkan Hannibal Lecter ketika Will Graham membunuh pertama kali. Senyuman yang ditujukan untuk membuat kita bergidik. Loh, lalu dimana salahnya? Buat saya – lagi-lagi – tokoh Hannibal tidak memerlukan senyum itu sebagai pertanda bahwa kita “takut” akan dia. Mads Mikkelsen sendiri sudah punya aura menakutkan bahkan ketika dia berdiri di kegelapan tanpa melakukan gerakan apapun, tanpa bernyanyi riang sambil memotong-motong tubuh, tanpa gerakan apapun bahkan memicingkan mata ketika melihat “korbannya”.

Tapi diluar itu semua saya sudah mulai menyukai Hannibal Mikkelsen tanpa membandingkan lebih jauh karena bagaimanapun ini tidak dimulai di jaman yang sama. Hannibal Mikkelsen adalah Hannibal yang berkembang, sisi gelap dan sisi terangnya masih terlihat. Hannibal Mikkelsen adalah Hannibal yang belum tertangkap sehingga permainan ngumpet-ngumpetnya terasa menarik, yang kebodohan (kalau saja bisa dibilang bodoh) dalam keputusan-keputusannya masih terlihat tapi dia bisa menanganinya dengan baik.




Namirah Syafrina

Featured Games

JuxtaReview © 2014 - Designed by Templateism.com, Plugins By MyBloggerLab.com