Hannibal Lecter adalah nama yang bisa membuat perasaan bergidik muncul, perasaan bergairah, perasaan ingin menutup pintu dan memandang ke arah jendela terus menerus. Paling tidak begitulah yang saya rasakan waktu menonton film ini, rasa menikmati dan rasa ketakutan yang muncul sama besarnya.
Apa yang terlintas ketika mendengar nama ini? Psikopat Jenius? Pembunuh gila? Bagi saya yang terlintas pertama kali adalah Anthony Hopkins. Makanya ketika mendengar film ini dibuat TV seriesnya ada perasaan ragu sekaligus perasaan harus nonton! Dan kenyataannya, saya menonton Hannibal TV series sudah sampai episode ke 10.
Bagaimana saya melihat Mads Mikkelsen sebagai Hannibal? Kekecewaan pertama saya ketika melihat tokoh Hannibal muncul adalah: kenapa wajahnya kotak? Bagaimanapun buat saya seorang serial killer (yang kebetulan sudah diperankan Hopkins dengan baik) tidak boleh menimbulkan perasaan bahwa orang ini secara fisik sudah “berbeda” sehingga mudah dikenali. Kalo bahasa saya susah maka saya akan coba dalam bentuk lain. Hannibal yang ini seperti punya suku yang berbeda. “Pembunuhnya Batak soalnya mukanya kotak, China soalnya matanya sipit”. Itu yang ditangkap oleh mata saya pertama kali saat melihat Hannibal Mads Mikkelsen. Bahwa selewat pandang saja kita akan mengenali dia secara fisik, bukan secara karakter. Mungkin tidak penting dibahas karena tidak signifikan juga. Toh bagaimanapun juga orang Batak atau China tadi bisa jadi pembunuh, bisa juga bukan. Tapi itulah kesan pertama saya.
Kedua, senyuman nakal yang diselipkan Hannibal Lecter ketika Will Graham membunuh pertama kali. Senyuman yang ditujukan untuk membuat kita bergidik. Loh, lalu dimana salahnya? Buat saya – lagi-lagi – tokoh Hannibal tidak memerlukan senyum itu sebagai pertanda bahwa kita “takut” akan dia. Mads Mikkelsen sendiri sudah punya aura menakutkan bahkan ketika dia berdiri di kegelapan tanpa melakukan gerakan apapun, tanpa bernyanyi riang sambil memotong-motong tubuh, tanpa gerakan apapun bahkan memicingkan mata ketika melihat “korbannya”.
Tapi diluar itu semua saya sudah mulai menyukai Hannibal Mikkelsen tanpa membandingkan lebih jauh karena bagaimanapun ini tidak dimulai di jaman yang sama. Hannibal Mikkelsen adalah Hannibal yang berkembang, sisi gelap dan sisi terangnya masih terlihat. Hannibal Mikkelsen adalah Hannibal yang belum tertangkap sehingga permainan ngumpet-ngumpetnya terasa menarik, yang kebodohan (kalau saja bisa dibilang bodoh) dalam keputusan-keputusannya masih terlihat tapi dia bisa menanganinya dengan baik.
Namirah Syafrina
jadi pengen lihat kedua versi Hannibal setelah baca review ini hahahaa
ReplyDelete