Hmm.. Mungkin saya bukan siapa-siapa untuk mereview film ini. Saya tidak baca novelnya, dan saya juga mungkin sedikit (baca: banyak) melewatkan pesan-pesan yang ingin disampaikan dalam cerita ini, yang diangkat dari novel berjudul sama, ditulis oleh David Mitchell. Tapi, saya suka sekali film ini! Itu yang saya jadikan alasan untuk mereview film ini. Oke, mari dimulai.
[May contain spoiler. Karena sangat sulit mereview film ini tanpa memberikan spoiler]
[May contain spoiler. Karena sangat sulit mereview film ini tanpa memberikan spoiler]
Plots
Film ini memiliki enam plot dengan timeline yang berbeda jauh. Setiap plot berada di era yang berbeda. Namun, somehow, setiap plot berkaitan. Sesuai dengan tagline film ini: an exploration of how the actions of individual lives impact one another in the past, present and future, membuat saya berfikir, apakah tindakan yang saya lakukan saat ini berpengaruh untuk masa depan?
Plot pertama: 1849. Menceritakan Adam Ewing, seorang lawyer, yang di-hire mertuanya, Haskell Moore untuk membeli plantation di sebuah pulau. Ketika dia datang ke lokasi plantation, dia menyaksikan aksi pencambukan terhadap budak disana. Budak tersebut pada akhirnya menyelinap ke kapal Ewing agar dia bisa menjadi freeman. Selanjutnya Ewing membatalkan perjanjiannya dengan mertuanya, dan ia memilih untuk melakukan gerakan penghapusan perbudakan.
Plot kedua: 1936. Menceritakan Robert Frobisher dan Rufus Sixsmith, dua pria muda yang saling mencintai. Robert Frobisher bekerja dengan seorang komposer bernama Vyvyan Ayrs, sampai pada akhirnya mereka menciptakan sebuah masterpiece berjudul The Cloud Atlas Sextet. Selama Frobisher bekerja dengan Ayrs, dia dan Sixsmith melakukan kontak melalui surat-menyurat. Pada akhirnya Frobisher bunuh diri karena terlibat kriminalitas, dan (mungkin) karena menjadi homoseksual akan sulit pada jaman tersebut.
Plot ketiga: 1973. Menceritakan Luisa Rey, seorang jurnalis yang bertemu Sixsmith tua yang terjebak bersamanya dalam lift. Sixsmith yang merupakan seorang ilmuwan nuklir menceritakan sebuah rahasia besar soal pekerjaannya kepada Rey, mengenai konspirasi yang akan menguntungkan perusahaan minyak. Pada akhir cerita kesuksesan Rey dalam plot ini, Javier Gomez berkata kepada Rey: “this would make such a good book”.
Plot keempat: 2012. Menceritakan Timothy Cavendish, seorang penerbit buku, yang merilis buku tulisan Dermot Hoggins. Hoggins kemudian membunuh penulis yang mengkritik bukunya sehingga masuk penjara dan Cavendish terlibat dengan masalah yang berkaitan dengan profit buku dan hutang-hutang Hoggins. Cavendish lalu dimasukkan secara tidak sadar ke sebuah panti jompo oleh saudaranya, dan cerita berputar pada perjuangannya keluar dari panti jompo tersebut.
Plot kelima: 2144. Menceritakan Sonmi-451 di Neo Seoul, dimana Seoul “asli” sudah setengah terendam air. Sonmi adalah android yang bekerja di sebuah food chain bernama Papa Song. Kemudian dia diselamatkan Hae-Joo Chang dari konspirasi yang terjadi di Papa Song. Hae-Joo adalah anggota Union, sebuah kelompok pergerakan melawan pemerintah.
Plot keenam: 106 tahun setelah The Fall, diperkirakan tahun 2321. Bumi mengalami The Fall. Sebagian umat manusia musnah dan tersisa suku primitif bernama The Valley, yang menyembah Sonmi sebagai dewa. Pada masa ini diceritakan Zachry dari suku tersebut, bertemu salah seorang dari suku “beradab” pada zaman itu bernama Meronym. Meronym membutuhkan bantuan Zachry ke suatu lokasi yang dapat membuat ia melakukan kontak dengan koloni bumi di planet lain. Perjuangan Zachry dan Meronym diganggu suku kanibal bernama Kona.
Plots Connection
Keenam cerita diatas mungkin bisa menjadi cerita yang kuat jika berdiri sendiri. Namun, di setiap cerita disampaikan bahwa hal yang dilakukan setiap individu di sebuah masa/era ternyata dapat berpengaruh besar terhadap individu lain di era yang berbeda. Ewing menulis jurnal mengenai perjuangannya mengahapus perbudakan yang dibaca Frobisher; Frobisher menjalin hubungan dan surat-menyurat dengan Sixsmith; Sixsmith bertemu Rey dan membaca surat-surat yang ditulis Frobisher untuk Sixsmith; Cavendish membaca buku yang (ternyata akhirnya) ditulis Gomez; Sonmi dan Hae-Joo menonton film yang ditulis oleh Cavendish yang menceritakan perjuangannya keluar dari panti jompo; dan akhirnya suku The Valley yang menjadikan Sonmi sebagai dewa. There you go. Itulah semua koneksinya. Tidak lupa, semua tokoh utama di setiap plot, memiliki karakter pemberontak, pelaku revolusi. Ada yang bilang bahwa film ini politis. “Your politics will determine whether you will love or loathe Cloud Atlas”.
Writer’s View
Hal terkeren dari film ini menurut saya adalah editingnya. Dari satu plot bisa lompat ke plot lainnya, dimana satu scene-nya bisa kurang dari satu menit, tapi masih berkesinambungan. Trio sutradara film ini adalah Tom Tykwer dan the Wachowski Brothers (terkenal dari The Matrix, yang sekarang salah satunya sudah berubah gender). Mereka mendirect era yang berbeda. Wachowski Brothers misalnya, mereka men-direct era yang notabene lebih ‘futuristik’ yaitu era cerita Neo Seoul dan post-The Fall.
Hal menarik lainnya dari film ini, aktor dan aktris memerankan berbagai macam tokoh di masing-masing era. Tom Hanks memerankan Hoggins di era present (2012), lalu sebagai Zachry si suku primitif post The Fall, juga peran-peran lainnya. Sementara Halle Berry memerankan Rey, jurnalis di tahun 70an, juga Meronym di masa present, dll. Selain dua nama besar tersebut, film ini juga diperankan oleh nama-nama terkenal lainnya seperti Hugo Weaving, Susan Sarandon, Hugh Grant. Juga ada nama-nama baru yang menarik disini seperti Doona Bae, si gadis Korea pemeran Sonmi, Jim Sturgess yang ganteng, tipikal teenager heartthrob, lalu Ben Whishaw yang beneran ganteng, favorit saya.
Melly Aprianty

kerennn bangetttt
ReplyDeleteYes, film ini emang keren dhanybad
ReplyDelete