2013 - Man of Steel - Zack Snyder
Man of Steel adalah reboot dari franchise Superman. Menurut saya, secara cerita, reboot ini cukup baik karena menjelaskan dengan cukup lengkap asal mula Superman, bagi penonton awam yang sudah kenal Superman dari dulu, namun tidak pernah membaca komiknya.
Diawali dengan setting-an di planet Krypton. Kedua orangtua Kal-El sedang berusaha menyelamatkan anak mereka dari planet tersebut yang akan segera musnah. Sang ayah, Jor-El (Russell Crowe) menyelamatkan codex yang akan mempertahankan umat Krypton, lalu mengirimkannya ke Bumi beserta dengan Kal-El. Jenderal Zod yang menginginkan codex tersebut membunuh Jor-El, namun percuma karena codex sudah tidak di planet Krypton. Akibatnya, Jenderal Zod beserta pasukannya ditangkap karena membunuh, dan dibuang ke Phantom Zone.
Selanjutnya, diceritakan ‘Kal-El’ dewasa, yang kini namanya adalah Clark Kent (Henry Cavill), tinggal di Smallville, Kansas, yang berusaha melebur dengan manusia normal lainnya, dengan bekerja serabutan, dll. Sesekali diperlihatkan flashback Clark ketika SD dan remaja dimana Superman muda tidak memiliki hidup yang menyenangkan, dengan bullying, dan alienasi dari lingkungan sosialnya. Namun, orangtua angkat mereka Jonathan Kent (Kevin Costner) dan Martha Kent (Diane Lane), sangat menyayanginya, dan Jonathan banyak memberikan wejangan kepada Clark bahwa dengan kekuatan supernya, dia bisa menjadi baik ataupun jahat terhadap manusia, dan keduanya akan berdampak dalam mengubah dunia.
Perbedaan terbesar antara komik dan film ini adalah dimana Lois Lane (Amy Adams), jurnalis Daily Planet, yang mengetahui identitas asli Superman adalah Clark Kent dari awal. Mereka bertemu di sebuah lokasi penelitian dimana terdapat kapal dari Krypton yang tertimbun. Fast forward, kemudian akhirnya Jenderal Zod berhasil mencapai Bumi demi mencari Clark untuk menanyakan keberadaan codex, dan mengancam keselamatan umat manusia.
Hubungan antar plot pada film ini seperti dilakukan terburu-buru. Contohnya kedekatan Lois dan Clark yang terasa dipaksakan, padahal chemistry mereka belum terlalu sparkling. Proses Jenderal Zod sampai ke bumi, bertemu Superman, Superman menyerahkan diri, semua terasa sangat cepat dan instan (dan saya bingungnya, perpisahannya dengan Lois untuk Clark sangat berat sekali, padahal mereka baru ketemu beberapa kali, sementara dia sama sekali tidak dadah-dadahan dengan ibunya).
Adegan aksi sepanjang film ini menyenangkan pada awalnya. Namun apa yang terjadi ketika Anda disuapi makanan favorit Anda terus-terusan? Muak tentunya. Adegan pertarungan Superman dengan pasukan Jenderal Zod yang panjang dan tiada henti, mengingatkan saya dengan adegan pertarungan Peter Griffin dan Ayam di Family Guy (http://youtu.be/W4WGQmWcrbs). Silahkan bandingkan sendiri.
Saya beruntung dapat merasakan nonton film ini di teater Imax secara 3D, sehingga suguhan spesial efek ikut terdukung dalam menikmati film ini, yang sudah tidak bisa dipungkiri, sangat canggih. Henry Cavill yang super ganteng, adalah nilai positif lain untuk Man of Steel. Saya rasa dia cocok memerankan Superman.
Kesimpulannya, film ini bagus dalam taraf box office, which means, film ringan yang asik ditonton rame-rame, dan untuk seseruan. Tidak terlalu deep dan fun. Tipikal film superhero-kah itu? Tidak juga. Teori film superhero itu tidak terlalu deep dan fun sudah dipatahkan mentah-mentah oleh trilogi Batman-nya Nolan.
Adegan favorit: Cerita Clark kepada Lois mengenai kematian ayahnya. Sangat mengharukan dan intense.
Melly Aprianty


0 comments:
Post a Comment