Kategori : Buku
Jenis : Novel
Judul : To Kill a Mockingbird (1960)
Penulis : Harper Lee
To Kill a Mockingbird
dan Eksistensialisme
Harper Lee memang hanya
membutuhkan “To Kill a Mockingbird” untuk menjadikan namanya abadi, terlepas
dari fakta bahwa memang hanya itulah satu-satunya novel yang diterbitkan oleh
wanita kelahiran Monroeville, Alabama, 28 April, 84 tahun silam itu. To Kill a
Mockingbird telah mendapatkan puluhan penghargaan yang bergengsi. Diantaranya
adalah Pulitzer Prize Winning for Fiction tahun 1961 dan masuk Guinness World
Record sebagai novel terlaris sepanjang masa. Tidak berhenti di situ, tahun
2007 lalu sang pengarang juga menerima anugerah Presidential Medal of Freedom,
penghargaan tertinggi yang dapat diraih oleh masyarakat sipil di Amerika.
Kesuksesan novelnya lantas diikuti pula dengan kesuksesan filmnya yang menjadi Box
Office pada tahun 1962 serta memboyong 3 piala Oscar.
To Kill a Mockingbird mengangkat
begitu banyak tema yang merentang luas dari mulai ketidakadilan rasial, kelas
sosial di Amerika, hingga isu personal tentang keberanian dan rasa kasih
sayang. Persoalan rasisme yang juga diangkat oleh Harper Lee jarang kita temui di
kalangan penulis Amerika, maka tak salah jika Ia selalu dibanding-bandingkan
dengan William Faulkner.
Novel ini bercerita tentang
sebuah keluarga yang tinggal di kota kecil fiksi Maycomb County, Alabama, di bagian
selatan Amerika pada era depresi atau Great
Depression sekitar tahun 1940an. Atticus Finch adalah seorang pengacara
sekaligus orang tua tunggal dari dua orang anak, Jem dan si bungsu Scout Finch.
Atticus merupakan seorang pengacara yang memiliki integritas tinggi terhadap
pekerjaannya, hal ini dibuktikan dengan bersedianya Ia membela seorang kulit
hitam (Tom Robinson) yang menghadapi tuduhan memperkosa seorang gadis kulit
putih. Reaksi keras yang ditunjukan oleh sebagian besar masyarakat di
lingkungan sekitarnya karena Ia dianggap membela sampah masyarakat tidak
membuat Atticus gentar, apalagi belakangan Ia menemukan fakta bahwa Tom
Robinson sebenarnya tidak bersalah.
Eksistensialisme ala Atticus
“Respondeo, Ergo Sum”
“I am in so far I respond not only, but also in so far
I accept responsibility for my actions”. –
F. Heinemann
Atticus yang menolak tunduk untuk
bergabung dengan suara mayoritas dan populer dari kaumnya bisa kita artikan
sebagai wujud manusia yang dalam eksistensinya menemukan peluang untuk
aktualisasi diri terus-menerus bukannya sekedar dihanyutkan oleh realitas di
sekitarnya. Manusia adalah proses individualisasi dan sosialisasi sekaligus. Di
sini Atticus Finch dalam wujud kebersamaan dengan kaumnya yang tidak dapat dihindari,
justru mengembangkan dirinya untuk menjadi sebuah pribadi dengan semua sikap
dan prinsipnya, personalisasi menegaskan bahwa dalam sosialisasinya, Attius
tetap saja menyadari dirinya sebagai individu. Dalam proses personalisasi dan
sosialisasi itulah lantas prinsip “Respondeo,
Ergo Sum” lebih terasa mendesak. Respondeo
Ergo Sum sebagai ciri khas manusia menanggapi dunianya adalah pemberian isi
yang bermakna bagi kesadaran dasar eksistensial. Apa yang ditampilkan manusia
sebagai respon dalam dan terhadap kebersamaannya (masyarakatnya), adalah sebuah
faktor penting untuk mengukuhkan identitasnya. Atticus Finch sadar betul bahwa
manusia adalah penanggung jawab atas aktualisasi dirinya sendiri. Seperti
halnya ia tidak bisa mempertukarkan eksistensinya dengan manusia lain, begitu
pula ia tidak bisa menolak tanggungan akibat segala jawabannya terhadap
pengejawantahan dunianya. Begitulah Atticus Finch yang masih bisa
mempertahankan kesadaran individunya di tengah derasnya mentalitas kawanan yang
mendera.
Ada satu kutipan yang menarik,
sebuah perkataan Atticus kepada anaknya yang seharusnya bisa menjadi bahan
renungan kita semua: “Aku ingin kau melihat keberanian sejati, alih-alih
mendapat konsep bahwa keberanian selalu identik dengan lelaki bersenapan.
Keberanian adalah saat kau tahu kau akan kalah sebelum memulai, tetapi kau
tetap memulai dan kau merampungkannya, apapun yang terjadi. Kau jarang menang,
tetapi kadang-kadang kau bisa menang”. Kata-kata ini adalah sebuah “isbat”
terhadap hidup. Kata-kata yang akan selalu mengingatkan kepada kita bahwa hidup
bukan hanya cerita tentang kebahagiaan, tapi hidup juga merupakan cerita
tentang luka dan penderitaan dan tentu saja “kekalahan”.
-RA-