Wednesday, June 26, 2013

Cloud Atlas


2012 (Tom Tykwer, Lana Wachowski, Andy Wachowski)
Hmm.. Mungkin saya bukan siapa-siapa untuk mereview film ini. Saya tidak baca novelnya, dan saya juga mungkin sedikit (baca: banyak) melewatkan pesan-pesan yang ingin disampaikan dalam cerita ini, yang diangkat dari novel berjudul sama, ditulis oleh David Mitchell. Tapi, saya suka sekali film ini! Itu yang saya jadikan alasan untuk mereview film ini. Oke, mari dimulai. 

[May contain spoiler. Karena sangat sulit mereview film ini tanpa memberikan spoiler]

Plots

Film ini memiliki enam plot dengan timeline yang berbeda jauh. Setiap plot berada di era yang berbeda. Namun, somehow, setiap plot berkaitan. Sesuai dengan tagline film ini: an exploration of how the actions of individual lives impact one another in the past, present and future, membuat saya berfikir, apakah tindakan yang saya lakukan saat ini berpengaruh untuk masa depan?

Plot pertama: 1849. Menceritakan Adam Ewing, seorang lawyer, yang di-hire mertuanya, Haskell Moore untuk membeli plantation di sebuah pulau. Ketika dia datang ke lokasi plantation, dia menyaksikan aksi pencambukan terhadap budak disana. Budak tersebut pada akhirnya menyelinap ke kapal Ewing agar dia bisa menjadi freeman. Selanjutnya Ewing membatalkan perjanjiannya dengan mertuanya, dan ia memilih untuk melakukan gerakan penghapusan perbudakan.

Plot kedua: 1936. Menceritakan Robert Frobisher dan Rufus Sixsmith, dua pria muda yang saling mencintai. Robert Frobisher bekerja dengan seorang komposer bernama Vyvyan Ayrs, sampai pada akhirnya mereka menciptakan sebuah masterpiece berjudul The Cloud Atlas Sextet. Selama Frobisher bekerja dengan Ayrs, dia dan Sixsmith melakukan kontak melalui surat-menyurat. Pada akhirnya Frobisher bunuh diri karena terlibat kriminalitas, dan (mungkin) karena menjadi homoseksual akan sulit pada jaman tersebut.

Plot ketiga: 1973. Menceritakan Luisa Rey, seorang jurnalis yang bertemu Sixsmith tua yang terjebak bersamanya dalam lift. Sixsmith yang merupakan seorang ilmuwan nuklir menceritakan sebuah rahasia besar soal pekerjaannya kepada Rey, mengenai konspirasi yang akan menguntungkan perusahaan minyak. Pada akhir cerita kesuksesan Rey dalam plot ini, Javier Gomez berkata kepada Rey: “this would make such a good book”.

Plot keempat: 2012. Menceritakan Timothy Cavendish, seorang penerbit buku, yang merilis buku tulisan Dermot Hoggins. Hoggins kemudian membunuh penulis yang mengkritik bukunya sehingga masuk penjara dan Cavendish terlibat dengan masalah yang berkaitan dengan profit buku dan hutang-hutang Hoggins. Cavendish lalu dimasukkan secara tidak sadar ke sebuah panti jompo oleh saudaranya, dan cerita berputar pada perjuangannya keluar dari panti jompo tersebut.

Plot kelima: 2144. Menceritakan Sonmi-451 di Neo Seoul, dimana Seoul “asli” sudah setengah terendam air. Sonmi adalah android yang bekerja di sebuah food chain bernama Papa Song. Kemudian dia diselamatkan Hae-Joo Chang dari konspirasi yang terjadi di Papa Song. Hae-Joo adalah anggota Union, sebuah kelompok pergerakan melawan pemerintah.

Plot keenam: 106 tahun setelah The Fall, diperkirakan tahun 2321. Bumi mengalami The Fall. Sebagian umat manusia musnah dan tersisa suku primitif bernama The Valley, yang menyembah Sonmi sebagai dewa. Pada masa ini diceritakan Zachry dari suku tersebut, bertemu salah seorang dari suku “beradab” pada zaman itu bernama Meronym. Meronym membutuhkan bantuan Zachry ke suatu lokasi yang dapat membuat ia melakukan kontak dengan koloni bumi di planet lain. Perjuangan Zachry dan Meronym diganggu suku kanibal bernama Kona.

Plots Connection

Keenam cerita diatas mungkin bisa menjadi cerita yang kuat jika berdiri sendiri. Namun, di setiap cerita disampaikan bahwa hal yang dilakukan setiap individu di sebuah masa/era ternyata dapat berpengaruh besar terhadap individu lain di era yang berbeda. Ewing menulis jurnal mengenai perjuangannya mengahapus perbudakan yang dibaca Frobisher; Frobisher menjalin hubungan dan surat-menyurat dengan Sixsmith; Sixsmith bertemu Rey dan membaca surat-surat yang ditulis Frobisher untuk Sixsmith; Cavendish membaca buku yang (ternyata akhirnya) ditulis Gomez; Sonmi dan Hae-Joo menonton film yang ditulis oleh Cavendish yang menceritakan perjuangannya keluar dari panti jompo; dan akhirnya suku The Valley yang menjadikan Sonmi sebagai dewa. There you go. Itulah semua koneksinya. Tidak lupa, semua tokoh utama di setiap plot, memiliki karakter pemberontak, pelaku revolusi. Ada yang bilang bahwa film ini politis. “Your politics will determine whether you will love or loathe Cloud Atlas”.

Writer’s View

Hal terkeren dari film ini menurut saya adalah editingnya. Dari satu plot bisa lompat ke plot lainnya, dimana satu scene-nya bisa kurang dari satu menit, tapi masih berkesinambungan. Trio sutradara film ini adalah Tom Tykwer dan the Wachowski Brothers (terkenal dari The Matrix, yang sekarang salah satunya sudah berubah gender). Mereka mendirect era yang berbeda. Wachowski Brothers misalnya, mereka men-direct era yang notabene lebih ‘futuristik’ yaitu era cerita Neo Seoul dan post-The Fall.

Hal menarik lainnya dari film ini, aktor dan aktris memerankan berbagai macam tokoh di masing-masing era. Tom Hanks memerankan Hoggins di era present (2012), lalu sebagai Zachry si suku primitif post The Fall, juga peran-peran lainnya. Sementara Halle Berry memerankan Rey, jurnalis di tahun 70an, juga Meronym di masa present, dll. Selain dua nama besar tersebut, film ini juga diperankan oleh nama-nama terkenal lainnya seperti Hugo Weaving, Susan Sarandon, Hugh Grant. Juga ada nama-nama baru yang menarik disini seperti Doona Bae, si gadis Korea pemeran Sonmi, Jim Sturgess yang ganteng, tipikal teenager heartthrob, lalu Ben Whishaw yang beneran ganteng, favorit saya.




Melly Aprianty

Wednesday, June 19, 2013

Man of Steel

2013 - Man of Steel - Zack Snyder

Man of Steel adalah reboot dari franchise Superman. Menurut saya, secara cerita, reboot ini cukup baik karena menjelaskan dengan cukup lengkap asal mula Superman, bagi penonton awam yang sudah kenal Superman dari dulu, namun tidak pernah membaca komiknya.

Diawali dengan setting­-an di planet Krypton. Kedua orangtua Kal-El sedang berusaha menyelamatkan anak mereka dari planet tersebut yang akan segera musnah. Sang ayah, Jor-El (Russell Crowe) menyelamatkan codex yang akan mempertahankan umat Krypton, lalu mengirimkannya ke Bumi beserta dengan Kal-El. Jenderal Zod yang menginginkan codex tersebut membunuh Jor-El, namun percuma karena codex sudah tidak di planet Krypton. Akibatnya, Jenderal Zod beserta pasukannya ditangkap karena membunuh, dan dibuang ke Phantom Zone.


Selanjutnya, diceritakan ‘Kal-El’ dewasa, yang kini namanya adalah Clark Kent (Henry Cavill), tinggal di Smallville, Kansas, yang berusaha melebur dengan manusia normal lainnya, dengan bekerja serabutan, dll. Sesekali diperlihatkan flashback Clark ketika SD dan remaja dimana Superman muda tidak memiliki hidup yang menyenangkan, dengan bullying, dan alienasi dari lingkungan sosialnya. Namun, orangtua angkat mereka Jonathan Kent (Kevin Costner) dan Martha Kent (Diane Lane), sangat menyayanginya, dan Jonathan banyak memberikan wejangan kepada Clark bahwa dengan kekuatan supernya, dia bisa menjadi baik ataupun jahat terhadap manusia, dan keduanya akan berdampak dalam mengubah dunia.

Perbedaan terbesar antara komik dan film ini adalah dimana Lois Lane (Amy Adams), jurnalis Daily Planet, yang mengetahui identitas asli Superman adalah Clark Kent dari awal. Mereka bertemu di sebuah lokasi penelitian dimana terdapat kapal dari Krypton yang tertimbun. Fast forward, kemudian akhirnya Jenderal Zod berhasil mencapai Bumi demi mencari Clark untuk menanyakan keberadaan codex, dan mengancam keselamatan umat manusia.

Hubungan antar plot pada film ini seperti dilakukan terburu-buru. Contohnya kedekatan Lois dan Clark yang terasa dipaksakan, padahal chemistry mereka belum terlalu sparkling. Proses Jenderal Zod sampai ke bumi, bertemu Superman, Superman menyerahkan diri, semua terasa sangat cepat dan instan (dan saya bingungnya, perpisahannya dengan Lois untuk Clark sangat berat sekali, padahal mereka baru ketemu beberapa kali, sementara dia sama sekali tidak dadah-dadahan dengan ibunya).

Adegan aksi sepanjang film ini menyenangkan pada awalnya. Namun apa yang terjadi ketika Anda disuapi makanan favorit Anda terus-terusan? Muak tentunya. Adegan pertarungan Superman dengan pasukan Jenderal Zod yang panjang dan tiada henti, mengingatkan saya dengan adegan pertarungan Peter Griffin dan Ayam di Family Guy (http://youtu.be/W4WGQmWcrbs). Silahkan bandingkan sendiri.

Saya beruntung dapat merasakan nonton film ini di teater Imax secara 3D, sehingga suguhan spesial efek ikut terdukung dalam menikmati film ini, yang sudah tidak bisa dipungkiri, sangat canggih. Henry Cavill yang super ganteng, adalah nilai positif lain untuk Man of Steel. Saya rasa dia cocok memerankan Superman.

Kesimpulannya, film ini bagus dalam taraf box office, which means, film ringan yang asik ditonton rame-rame, dan untuk seseruan. Tidak terlalu deep dan fun. Tipikal film superhero-kah itu? Tidak juga. Teori film superhero itu tidak terlalu deep dan fun sudah dipatahkan mentah-mentah oleh trilogi Batman-nya Nolan.

Adegan favorit: Cerita Clark kepada Lois mengenai kematian ayahnya. Sangat mengharukan dan intense.




Melly Aprianty

Featured Games

JuxtaReview © 2014 - Designed by Templateism.com, Plugins By MyBloggerLab.com