Wednesday, September 25, 2013

2013 - Quickoffice - Quickoffice .inc

Saatnya aplikasi pengolah Microsoft Office gratis berada dalam genggaman kalian. 


Quickoffice memang sudah bukan nama yang asing dalam ranah aplikasi pengolah Microsoft Office. Beberapa dari kita mungkin pernah menggunakan aplikasi gratis ini di Desktop PC atau Notebook dalam keseharian bekerja di kantor sebagai pengganti aplikasi Microsoft Office yang berbayar. 

Aplikasi semacam ini memberikan solusi alternatif bagi kita yang ingin mengoptimalisasi penggunaan smartphonenya terutama para pengguna smartphone yang berbasis sistem operasi iOS yang dihadapkan dengan aplikasi pengolah Microsoft Office yang umumnya berbayar. 

Walaupun tidak berbayar, aplikasi ini tidak terkesan murahan. Tampilan grafisnya memang sederhana namun cukup mumpuni untuk mengolah dokumen .doc, .xls dan .ppt dengan format sederhana seperti pengaturan font dan paragraf. 

Beberapa hal yang saya kira menarik dalam mengolah dokumen .doc adalah terdapatnya fungsi find and replace yang terletak dibagian bawah dengan logo kaca pembesar. Fungsi lainnya yang tidak kalah menarik adalah fungsi track changes dan comment yang berguna bagi saya karena selalu berhadapan dengan editor.

Integrasi dengan Google Drive pun terasa sangat membantu untuk saya yang sedang mulai membiasakan diri untuk menyimpan beberapa data di cloud server. Satu hal yang belum saya temui pada aplikasi Quickoffice ini adalah fungsi insert picture yang cukup penting. Semoga pada update berikutnya pihak developer akan mempertimbangkan untuk memasukkan fungsi tersebut. 




Dhoni Saputra

Wednesday, September 18, 2013

2013 - Horizon Calendar - iOS - Applause Code, LLC


Bosan dengan aplikasi Calendar bawaan dari iOS? Aplikasi ini bisa menjadi alternatif mengobati kebosanan anda. Aplikasi yang dikembangkan oleh Applause Code ini memberikan sebuah pengalaman mengelola kalender dengan desain dan tata letak yang manis.
Penataan secara horizontal yang rapih dengan desain minimalis dan bersih membuat sangat nyaman untuk menelusuri event dari kalender saya. 
Beberapa fungsi seperti new event, location, calendar (pilihan akun kalender yang kita miliki) yang ada di aplikasi native calendar tetap dipertahankan, namun sepertinya pihak Applause Code sebagai pengembang melupakan menu invitees yang saya rasa cukup penting. Mungkin hal ini tidak dijadikan prioritas bagi mereka.

Hal yang patut diapresiasi adalah optimalisasi penggunaan slide down untuk memunculkan tampilan kalender utuh 1 bulan, berubahnya tema jika waktu sudah malam dan satu lagi adalah terintegrasinya fungsi weather yang memberikan pengalaman lebih di aplikasi ini.

Jadi, jika kita sudah mulai bosan dengan aplikasi Calendar App milik Apple, Horizon bisa dijadikan salah satu alternatif anda.

Tautan untuk mengunduh: https://itunes.apple.com/us/app/horizon-calendar/id593206559?mt=8
Dhoni Saputra

Wednesday, September 11, 2013

Teror Orde Baru

Penyelewengan Hukum & Propaganda 1965-1981
Julie Southwood & Patrick Flanagan


Saya adalah seorang yang sangat tertarik dengan sejarah Indonesia era Orde Baru, maka ketika saya mendengar kabar bahwa Komunitas Bambu berniat menerjemahkan dan menerbitkan buku “Indonesia; Law, Propaganda and Terror” karya Julie Southwood dan Patrick Flanagan akhir 2012 lalu, saya langsung memasukan buku tersebut sebagai prioritas untuk dibeli. Awalnya buku ini diberi judul “Teror Soeharto” namun entah mengapa tidak berapa lama Komunitas Bambu mengganti judulnya dengan “Teror Orde Baru: Penyelewengan Hukum dan Propaganda 1965-1981” (kabar yang saya dengar pihak distributor menolak mendistribusikan buku dan menaruh di toko-toko mereka jika judulnya masih “Teror Soeharto”). 

Buku Teror Orde Baru adalah satu-satunya buku yang membahas secara komprehensif soal peran Kopkamtib sebuah lembaga jaringan keamanan intelijen rahasia dalam mengendalikan dan mengawasi sistem kekuasaan Orde Baru. Inilah yang membedakan buku ini dari buku-buku lain yang mengupas tentang Orde Baru seperti yang ditulis oleh David Jenkins atau Michael Wood. 

Buku ini dimulai dengan analisa mengenai Gerakan 30 September 65 (Gestok) dengan berbagai skenarionya, ‘percobaan kudeta’ yang menurut sejarah resmi Orde Baru didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Ujung dari ‘percobaan kudeta’ lantas mengakhiri kekuasaan Soekarno. Peristiwa inilah yang tidak hanya menewaskan ratusan ribu korban yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan politik, tetapi juga menandai lahirnya sistem politik otoritarian dan represi tanpa preseden di Indonesia. Setelah itu buku ini juga mengupas secara dalam bagaimana rezim Orde Baru memanipulasi sistem hukum dan menggunakan teror dan propaganda untuk melanggengkan kekuasaan. 

Julie Southwood dan Patrick Flanagan tidak hanya memeriksa struktur kekuasaan Orde Baru tetapi juga mengkritisi gerakan-gerakan oposisi terhadap Orde Baru yang datang dari elemen-elemen kolaborator kritis seperti LBH dan mahasiswa. Mencatat bagaimana kolaborator kritis juga selalu menemui kebuntuan ketika berhadapan dengan rezim. Salah satu catatan yang menarik misalnya, pembelaan-pembelaan yang dilakukan oleh Lembaga Bantuan Hukum Indonesia terhadap korban viktimisasi Orde Baru. LBH sering kali memang sangat kritis terhadap rezim namun pendekatannya yang sangat postivis juga dikritik, bagaimana mungkin memperjuangkan keadilan di dalam sistem yang jelas-jelas tidak pernah mempertimbangkan keadilan sebagai salah satu prinsipnya. 

Satu hal yang patut disayangkan dari buku ini adalah tidak sempat merekam peristiwa-peristiwa teror dan propaganda yang dilakukan rezim Orde Baru di tahun 1980-an era pasca oil booming dimana saat itu rezim justru meningkatkan represifitasnya. Kedung Ombo, Tanjung Priok, Petrus adalah beberapa contoh peristiwa yang mencederai hak asasi manusia yang dilakukan rezim Orde Baru di tahun 1980-an. Sebagai catatan buku ini memang pertama kali diterbitkan tahun 1983. 

Buku yang ditulis 30 tahun yang lalu ini masih menemukan relevansinya di Indonesia era Reformasi, karena jika diperhatikan struktur dan moda kekuasaan Orde Baru masih tertanam kuat sampai hari ini. Satu contoh misalnya di bidang penyiaran, melalui UU Penyiaran tahun 2002 bisa dikatakan Pemerintah melalui Kemenkominfo berhasil mendapatkan kembali kontrol terhadap media penyiaran yang sempat terkikis pada awal Reformasi. Kemenkominfo saat ini seharusnya akan mengingatkan kita pada sepak terjang Departemen Penerangan di era Orde Baru. 

Sekali lagi Julie Southwood dan Patrick Flanagan bukanlah sarjana Indonesianis namun lewat karyanya ini mereka telah berhasil menelanjangi struktur kekuasaan Orde Baru yang berputar di orbit Soeharto dan para kroninya. Buku “Teror Orde Baru” ini bisa menjadi sebuah buku panduan untuk mereka yang tertarik membangun sebuah rezim otoriter.





Reza Adhiatma

Wednesday, August 14, 2013

Soylent Green

Biskuit Hijau Penyelamat Manusia

1973 - Soylent Green - Richard Fleischer 


Sedikit berbicara mengenai isu perekonomian yang terjadi di negara kita baru-baru ini, yaitu mengenai kenaikan harga bahan bakar, itu sebenarnya adalah sesuatu yang pasti akan terjadi, dan kita tahu akan terjadi. Hanya masalah waktu saja. Waktu kita SD dulu kita belajar mengenai sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan tidak. Film sci-fi berjudul Soylent Green ini menceritakan era dimana makanan sudah menjadi barang langka. 

Ber-setting di New York, tahun 2022, dimana populasi manusia sangat tinggi, dan bumi menjadi penuh. New York diceritakan berpopulasi 40 juta manusia. Suhu bumi semakin panas, dan polusi tidak terkontrol. Sayuran, daging sapi, air bersih, sabun, menjadi barang mahal. Harga selai stroberi bernilai 150 dolar. 

Sebuah korporasi besar bernama Soylent Corporation, memonopoli kebutuhan pangan masyarakat dengan memproduksi makanan berbentuk biskuit, atau sebutannya “Soylent”, yang terbuat dari soy dan lentils (kacang-kacangan). Soylent Red dan Soylent Yellow pun semakin menipis persediaannya, dan kemudian Soylent Corporation “merilis” produk baru mereka: Soylent Green, terbuat dari high energy plankton. 


Seorang petinggi Soylent Corporation bernama William Simonson (Joseph Cotten) kemudian meninggal karena dibunuh di apartemennya. Kasus pembunuhan tersebut lalu diselidiki oleh detektif Robert Thorn (Charlton Heston). Penyelidikan Thorn terhadap kasus itu sedikit demi sedikit menguak rahasia dari Soylent Corporation. 

Adalah karakter Solomon Roth (Edward Robinson), atau biasa dipanggil Sol, teman dekat Thorn, dan membantu Thorn dalam penyelidikan kasus pembunuhan Simonson. Ia adalah orang tua yang ‘tersisa’ dari generasi yang pernah melihat rerumputan, merasakan daging hewan ‘asli’, melihat sungai, dan lain-lain. Ia sering menceritakan hal-hal tersebut kepada Thorn, dan itu sudah seperti dongeng saja bagi Thorn. Sangat sulit bagi Thorn untuk percaya dengan ‘dongeng-dongeng’ Sol. Agak miris jika membayangkan itu mungkin akan terjadi pada generasi-generasi selanjutnya di muka bumi ini. 

Film ini diadaptasi dari novel berjudul Make Room! Make Room! karangan Harry Harrison yang diterbitkan tahun 1966. Cukup jauh pandangan penulis mengenai bumi yang over crowded, global warming, dan penipisan sumber daya alam. Ia sudah mengkhawatirkan itu semua dari tahun 1966, sementara kita (masih) marak-maraknya mengangkat isu tersebut sampai tahun 2013 ini. 

Setting film ini adalah tahun 2022. Semakin dekat dari hari ini. Sangat ngeri jika membayangkan masa itu akan segera terjadi. Tapi jujur saja, sedikit yang bisa saya lakukan. Saya tidak mau hidup hanya dengan makan crackers, tapi buktinya sekarang saya masih picky terhadap makanan. Manusia adalah monster, dan monster ini tumbuh menjadi semakin banyak. Jika memang ingin terus bertahan, mungkin memang yang terbaik adalah we have to eat each other. 




Melly Aprianty

Wednesday, July 24, 2013

Merek Indonesia Harus Bisa

Judul : “Merek Indonesia Harus Bisa”
Penulis : Arto Soebiantoro
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo



Buku yang berjudul “Merek Indonesia Harus Bisa” ini ditulis oleh Arto Soebiantoro, seorang praktisi pengembangan merek lokal dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang cukup panjang di dunia periklanan. Persinggungannya dengan banyak orang menyebabkan dirinya memiliki pemahaman yang kompehensif mengenai bagaimana suatu produk dikembangkan sehingga menjadi suatu brand yang kuat.

Secara keseluruhan, buku ini dapat dikatakan merupakan buku panduan komprehensif mengenai cara membangun merek, namun dikemas dengan gaya populer dan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Setting penulisan diawali dengan kondisi dunia yang berubah, yang menyebabkan tantangan dalam bisnis pun berubah secara dinamis dan semakin keras. Pelaku usaha harus senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungan usaha yang berubah tersebut. Untuk memenangkan persaingan, suatu produk haruslah membangun merek dengan tujuan akhir mempengaruhi persepsi konsumen.

Buku ini secara gamblang dan rinci menjelaskan beragam benefit yang dapat diperoleh dari dimilikinya merek yang kuat. Upaya untuk memberikan pemahaman perihal berbagai aspek internal dalam pembangunan merek pun dijelaskan secara rinci namun ringan. Beberapa hal yang penting untuk dikemukakan diantaranya adalah tentang pentingnya peran merek sebagai pembeda (diferensiasi), perlunya sikap konsisten pelaku usaha, serta peran signifikan kredibilitas pelaku usaha. Paparan dalam bagian ini menjadi semakin menarik dan lengkap karena memuat berbagai masukan, pandangan dan contoh-contoh dari beberapa pihak yang kompeten, yaitu Yongky Surya Susilo (Executive Director The Nielsen Company), Andy Noya (pengasuh acara Kick Andy), dan Ade Rai.

Roh utama dalam buku ini tertuang dalam Bab 4, yaitu paparan rinci mengenai tahapan dalam membangun merek yaitu Fondasi, Komunikasi dan Evaluasi. Fondasi utamanya terkait dengan aspek manajemen praktis, Komunikasi banyak berhubungan dengan aspek pembentukan identitas merek (brand identity) dan strategi penyampaian pesan (message) kepada konsumen, sedangkan Evaluasi diperlukan sebagai sarana untuk mengukur keberhasilan proses pembangunan merek dan mengambil langkah-langkah perbaikan ataupun penyempurnaan.

Secara keseluruhan, materi yang tertuang dalam buku ini dirasa perlu untuk diketahui oleh para pelaku usaha, baik skala UMKM maupun skala korporasi, sebagai salah satu referensi dalam menyusun strategi bisnis perusahaan.




Reza Adhiatma

Wednesday, July 17, 2013

JKT 48 - Heavy Rotation

2013 - Heavy Rotation - JKT 48



Kuulang terus tanpa henti twenty four hours a day 

Jujur saja, terkadang yang saya perlukan di dunia yang fana ini terkadang hanyalah hiburan. Terkadang saya, mungkin juga pembaca sekalian, seringkali sedang tidak ingin berpikir terlalu dalam. Karena itu saya lebih suka Opera Van Java ketimbang Stand Up Comedy yang membuat kita berpikir sebelum tertawa. Dan akhir-akhir ini saya merasa sangat terhibur dengan JKT48. Berikan pada saya alasan untuk tidak menggandrungi sekelompok gadis menarik yang bernyanyi lagu-lagu catchy dan menari diatas panggung dengan semangat, inilah hiburan dalam arti hiburan yang sesungguhnya. 

Oke, memang sebelum JKT48 saya memang sudah terlebih dahulu suka dengan (older) sister group mereka AKB48. Tetapi permasalahan AKB48 (dan lagu non-Inggris atau Bahasa Indonesia lainnya) saya tidak mengerti apa yang mereka nyanyikan, dan JKT48 menawarkan versi bahasa Indonesia dari lagu-lagu favorit saya seperti Shonichi atau Kimi No Koto Ga Suki Dakara, karena itu ketika album Heavy Rotation akhirnya rilis saya merasa harus memilikinya. 

Heavy Rotation berisi 10 track yang merupakan terjemahan dari lagu-lagu AKB48 (dan satu lagu SKE48). Saat pertama mendengarkan lagu-lagunya, well semua seperti yang saya harapkan, catchy as hell dan membuat kita joged-joged kecil. Namun, kali ini saya mengerti apa yang mereka nyanyikan tanpa harus googling terlebih dahulu, which is good, karena apalah artinya lagu pop yang catchy kalau saya tidak merasakan ikatan emosional dengan lagu tersebut, dan saya selalu beranggapan lirik adalah jembatan emosional yang paling mudah antara musik dengan pendengar. Setelah mendengarkan satu album secara penuh, saya makin ada keterkaitan emosi dengan lagu-lagu mulai dari Heavy Rotation sampai Hikoukigumo. I finally understood these songs fully, bukan cuma ikut nyanyi pas refrain saja. 

Teman saya yang bisa bahasa Jepang dengan cukup fasih mengatakan terjemahan liriknya aneh. Namun saya tumbuh besar dengan lagu-lagu anime yang didubbing jadi saya tidak terlalu merasa ada yang janggal pada lirik-liriknya. Mungkin memang secara kaidah bahasa Indonesia atau paraphrasing lagu-lagu ini agak janggal, tapi siapa peduli? Maksud mereka tersampaikan dan saya bisa bernyanyi bersama, itu sudah cukup. 

Kalau Anda sudah suka dengan AKB48 (seperti saya), dan juga tidak mengerti bahasa Jepang (seperti saya juga) kemungkinan besar Anda akan suka album Heavy Rotation-nya Jeketi fourtyeito. 

Bagian bridge Heavy Rotation mungkin menggambarkan perasaan saya terhadap album ini: 

Yang selalu ku dengarkan favorite song/ 
Seperti lagu yang ku suka/ 
Ku ulang terus tanpa henti twenty four hours a day/ 
Oh baby the only request is you// (dalam konteks ini The only request is them) 




Deni Taufiq Adi

Thursday, July 11, 2013

Komuter

2013 - Komuter - iOS

KOMUTER merupakan sebuah aplikasi yang sangat berguna dan ditunggu-tunggu oleh para ROKER (Rombongan Kereta). Fungsi seperti interaksi sesama pengguna KRL (Kereta Rangkaian Listrik), jadwal harian KRL, rute perjalanan dan fungsi posting yang terintegrasi dengan akun Twitter memang cukup membantu mobilisasi para ROKER.

Beberapa pengembang aplikasi di Indonesia telah banyak menghasilkan aplikasi serupa di platform Android, namun belum banyak yang melakukannya di iOS. Menurut saya baru aplikasi KOMUTER ini yang berhasil lolos seleksi Apple Store. Apa karena para pengembangnya merupakan pemain lama? Mungkin saja. Yang pasti adalah kita patut memberikan bintang lima dan dukungan sebesar-besarnya pada aplikasi buatan Indonesia.

Secara keseluruhan, aplikasi ini memberikan kemudahan akses informasi yang sangat dibutuhkan oleh pengguna jasa KRL. Yang sangat disayangkan adalah mengapa aplikasi ini tidak terdokumentasi oleh pihak Commuter? Mungkin jika aplikasi ini didukung oleh database forum pengguna KRL seperti krlmania.com, pengembangan aplikasi ini akan menjadi lebih baik dari segi interaksi dan informasinya.




Dhoni Saputra

Thursday, July 4, 2013

Hannibal Lecter

Hannibal Lecter adalah nama yang bisa membuat perasaan bergidik muncul, perasaan bergairah, perasaan ingin menutup pintu dan memandang ke arah jendela terus menerus. Paling tidak begitulah yang saya rasakan waktu menonton film ini, rasa menikmati dan rasa ketakutan yang muncul sama besarnya.

Apa yang terlintas ketika mendengar nama ini? Psikopat Jenius? Pembunuh gila? Bagi saya yang terlintas pertama kali adalah Anthony Hopkins. Makanya ketika mendengar film ini dibuat TV seriesnya ada perasaan ragu sekaligus perasaan harus nonton! Dan kenyataannya, saya menonton Hannibal TV series sudah sampai episode ke 10.

Bagaimana saya melihat Mads Mikkelsen sebagai Hannibal? Kekecewaan pertama saya ketika melihat tokoh Hannibal muncul adalah: kenapa wajahnya kotak? Bagaimanapun buat saya seorang serial killer (yang kebetulan sudah diperankan Hopkins dengan baik) tidak boleh menimbulkan perasaan bahwa orang ini secara fisik sudah “berbeda” sehingga mudah dikenali. Kalo bahasa saya susah maka saya akan coba dalam bentuk lain. Hannibal yang ini seperti punya suku yang berbeda. “Pembunuhnya Batak soalnya mukanya kotak, China soalnya matanya sipit”. Itu yang ditangkap oleh mata saya pertama kali saat melihat Hannibal Mads Mikkelsen. Bahwa selewat pandang saja kita akan mengenali dia secara fisik, bukan secara karakter. Mungkin tidak penting dibahas karena tidak signifikan juga. Toh bagaimanapun juga orang Batak atau China tadi bisa jadi pembunuh, bisa juga bukan. Tapi itulah kesan pertama saya.

Kedua, senyuman nakal yang diselipkan Hannibal Lecter ketika Will Graham membunuh pertama kali. Senyuman yang ditujukan untuk membuat kita bergidik. Loh, lalu dimana salahnya? Buat saya – lagi-lagi – tokoh Hannibal tidak memerlukan senyum itu sebagai pertanda bahwa kita “takut” akan dia. Mads Mikkelsen sendiri sudah punya aura menakutkan bahkan ketika dia berdiri di kegelapan tanpa melakukan gerakan apapun, tanpa bernyanyi riang sambil memotong-motong tubuh, tanpa gerakan apapun bahkan memicingkan mata ketika melihat “korbannya”.

Tapi diluar itu semua saya sudah mulai menyukai Hannibal Mikkelsen tanpa membandingkan lebih jauh karena bagaimanapun ini tidak dimulai di jaman yang sama. Hannibal Mikkelsen adalah Hannibal yang berkembang, sisi gelap dan sisi terangnya masih terlihat. Hannibal Mikkelsen adalah Hannibal yang belum tertangkap sehingga permainan ngumpet-ngumpetnya terasa menarik, yang kebodohan (kalau saja bisa dibilang bodoh) dalam keputusan-keputusannya masih terlihat tapi dia bisa menanganinya dengan baik.




Namirah Syafrina

Wednesday, June 26, 2013

Cloud Atlas


2012 (Tom Tykwer, Lana Wachowski, Andy Wachowski)
Hmm.. Mungkin saya bukan siapa-siapa untuk mereview film ini. Saya tidak baca novelnya, dan saya juga mungkin sedikit (baca: banyak) melewatkan pesan-pesan yang ingin disampaikan dalam cerita ini, yang diangkat dari novel berjudul sama, ditulis oleh David Mitchell. Tapi, saya suka sekali film ini! Itu yang saya jadikan alasan untuk mereview film ini. Oke, mari dimulai. 

[May contain spoiler. Karena sangat sulit mereview film ini tanpa memberikan spoiler]

Plots

Film ini memiliki enam plot dengan timeline yang berbeda jauh. Setiap plot berada di era yang berbeda. Namun, somehow, setiap plot berkaitan. Sesuai dengan tagline film ini: an exploration of how the actions of individual lives impact one another in the past, present and future, membuat saya berfikir, apakah tindakan yang saya lakukan saat ini berpengaruh untuk masa depan?

Plot pertama: 1849. Menceritakan Adam Ewing, seorang lawyer, yang di-hire mertuanya, Haskell Moore untuk membeli plantation di sebuah pulau. Ketika dia datang ke lokasi plantation, dia menyaksikan aksi pencambukan terhadap budak disana. Budak tersebut pada akhirnya menyelinap ke kapal Ewing agar dia bisa menjadi freeman. Selanjutnya Ewing membatalkan perjanjiannya dengan mertuanya, dan ia memilih untuk melakukan gerakan penghapusan perbudakan.

Plot kedua: 1936. Menceritakan Robert Frobisher dan Rufus Sixsmith, dua pria muda yang saling mencintai. Robert Frobisher bekerja dengan seorang komposer bernama Vyvyan Ayrs, sampai pada akhirnya mereka menciptakan sebuah masterpiece berjudul The Cloud Atlas Sextet. Selama Frobisher bekerja dengan Ayrs, dia dan Sixsmith melakukan kontak melalui surat-menyurat. Pada akhirnya Frobisher bunuh diri karena terlibat kriminalitas, dan (mungkin) karena menjadi homoseksual akan sulit pada jaman tersebut.

Plot ketiga: 1973. Menceritakan Luisa Rey, seorang jurnalis yang bertemu Sixsmith tua yang terjebak bersamanya dalam lift. Sixsmith yang merupakan seorang ilmuwan nuklir menceritakan sebuah rahasia besar soal pekerjaannya kepada Rey, mengenai konspirasi yang akan menguntungkan perusahaan minyak. Pada akhir cerita kesuksesan Rey dalam plot ini, Javier Gomez berkata kepada Rey: “this would make such a good book”.

Plot keempat: 2012. Menceritakan Timothy Cavendish, seorang penerbit buku, yang merilis buku tulisan Dermot Hoggins. Hoggins kemudian membunuh penulis yang mengkritik bukunya sehingga masuk penjara dan Cavendish terlibat dengan masalah yang berkaitan dengan profit buku dan hutang-hutang Hoggins. Cavendish lalu dimasukkan secara tidak sadar ke sebuah panti jompo oleh saudaranya, dan cerita berputar pada perjuangannya keluar dari panti jompo tersebut.

Plot kelima: 2144. Menceritakan Sonmi-451 di Neo Seoul, dimana Seoul “asli” sudah setengah terendam air. Sonmi adalah android yang bekerja di sebuah food chain bernama Papa Song. Kemudian dia diselamatkan Hae-Joo Chang dari konspirasi yang terjadi di Papa Song. Hae-Joo adalah anggota Union, sebuah kelompok pergerakan melawan pemerintah.

Plot keenam: 106 tahun setelah The Fall, diperkirakan tahun 2321. Bumi mengalami The Fall. Sebagian umat manusia musnah dan tersisa suku primitif bernama The Valley, yang menyembah Sonmi sebagai dewa. Pada masa ini diceritakan Zachry dari suku tersebut, bertemu salah seorang dari suku “beradab” pada zaman itu bernama Meronym. Meronym membutuhkan bantuan Zachry ke suatu lokasi yang dapat membuat ia melakukan kontak dengan koloni bumi di planet lain. Perjuangan Zachry dan Meronym diganggu suku kanibal bernama Kona.

Plots Connection

Keenam cerita diatas mungkin bisa menjadi cerita yang kuat jika berdiri sendiri. Namun, di setiap cerita disampaikan bahwa hal yang dilakukan setiap individu di sebuah masa/era ternyata dapat berpengaruh besar terhadap individu lain di era yang berbeda. Ewing menulis jurnal mengenai perjuangannya mengahapus perbudakan yang dibaca Frobisher; Frobisher menjalin hubungan dan surat-menyurat dengan Sixsmith; Sixsmith bertemu Rey dan membaca surat-surat yang ditulis Frobisher untuk Sixsmith; Cavendish membaca buku yang (ternyata akhirnya) ditulis Gomez; Sonmi dan Hae-Joo menonton film yang ditulis oleh Cavendish yang menceritakan perjuangannya keluar dari panti jompo; dan akhirnya suku The Valley yang menjadikan Sonmi sebagai dewa. There you go. Itulah semua koneksinya. Tidak lupa, semua tokoh utama di setiap plot, memiliki karakter pemberontak, pelaku revolusi. Ada yang bilang bahwa film ini politis. “Your politics will determine whether you will love or loathe Cloud Atlas”.

Writer’s View

Hal terkeren dari film ini menurut saya adalah editingnya. Dari satu plot bisa lompat ke plot lainnya, dimana satu scene-nya bisa kurang dari satu menit, tapi masih berkesinambungan. Trio sutradara film ini adalah Tom Tykwer dan the Wachowski Brothers (terkenal dari The Matrix, yang sekarang salah satunya sudah berubah gender). Mereka mendirect era yang berbeda. Wachowski Brothers misalnya, mereka men-direct era yang notabene lebih ‘futuristik’ yaitu era cerita Neo Seoul dan post-The Fall.

Hal menarik lainnya dari film ini, aktor dan aktris memerankan berbagai macam tokoh di masing-masing era. Tom Hanks memerankan Hoggins di era present (2012), lalu sebagai Zachry si suku primitif post The Fall, juga peran-peran lainnya. Sementara Halle Berry memerankan Rey, jurnalis di tahun 70an, juga Meronym di masa present, dll. Selain dua nama besar tersebut, film ini juga diperankan oleh nama-nama terkenal lainnya seperti Hugo Weaving, Susan Sarandon, Hugh Grant. Juga ada nama-nama baru yang menarik disini seperti Doona Bae, si gadis Korea pemeran Sonmi, Jim Sturgess yang ganteng, tipikal teenager heartthrob, lalu Ben Whishaw yang beneran ganteng, favorit saya.




Melly Aprianty

Wednesday, June 19, 2013

Man of Steel

2013 - Man of Steel - Zack Snyder

Man of Steel adalah reboot dari franchise Superman. Menurut saya, secara cerita, reboot ini cukup baik karena menjelaskan dengan cukup lengkap asal mula Superman, bagi penonton awam yang sudah kenal Superman dari dulu, namun tidak pernah membaca komiknya.

Diawali dengan setting­-an di planet Krypton. Kedua orangtua Kal-El sedang berusaha menyelamatkan anak mereka dari planet tersebut yang akan segera musnah. Sang ayah, Jor-El (Russell Crowe) menyelamatkan codex yang akan mempertahankan umat Krypton, lalu mengirimkannya ke Bumi beserta dengan Kal-El. Jenderal Zod yang menginginkan codex tersebut membunuh Jor-El, namun percuma karena codex sudah tidak di planet Krypton. Akibatnya, Jenderal Zod beserta pasukannya ditangkap karena membunuh, dan dibuang ke Phantom Zone.


Selanjutnya, diceritakan ‘Kal-El’ dewasa, yang kini namanya adalah Clark Kent (Henry Cavill), tinggal di Smallville, Kansas, yang berusaha melebur dengan manusia normal lainnya, dengan bekerja serabutan, dll. Sesekali diperlihatkan flashback Clark ketika SD dan remaja dimana Superman muda tidak memiliki hidup yang menyenangkan, dengan bullying, dan alienasi dari lingkungan sosialnya. Namun, orangtua angkat mereka Jonathan Kent (Kevin Costner) dan Martha Kent (Diane Lane), sangat menyayanginya, dan Jonathan banyak memberikan wejangan kepada Clark bahwa dengan kekuatan supernya, dia bisa menjadi baik ataupun jahat terhadap manusia, dan keduanya akan berdampak dalam mengubah dunia.

Perbedaan terbesar antara komik dan film ini adalah dimana Lois Lane (Amy Adams), jurnalis Daily Planet, yang mengetahui identitas asli Superman adalah Clark Kent dari awal. Mereka bertemu di sebuah lokasi penelitian dimana terdapat kapal dari Krypton yang tertimbun. Fast forward, kemudian akhirnya Jenderal Zod berhasil mencapai Bumi demi mencari Clark untuk menanyakan keberadaan codex, dan mengancam keselamatan umat manusia.

Hubungan antar plot pada film ini seperti dilakukan terburu-buru. Contohnya kedekatan Lois dan Clark yang terasa dipaksakan, padahal chemistry mereka belum terlalu sparkling. Proses Jenderal Zod sampai ke bumi, bertemu Superman, Superman menyerahkan diri, semua terasa sangat cepat dan instan (dan saya bingungnya, perpisahannya dengan Lois untuk Clark sangat berat sekali, padahal mereka baru ketemu beberapa kali, sementara dia sama sekali tidak dadah-dadahan dengan ibunya).

Adegan aksi sepanjang film ini menyenangkan pada awalnya. Namun apa yang terjadi ketika Anda disuapi makanan favorit Anda terus-terusan? Muak tentunya. Adegan pertarungan Superman dengan pasukan Jenderal Zod yang panjang dan tiada henti, mengingatkan saya dengan adegan pertarungan Peter Griffin dan Ayam di Family Guy (http://youtu.be/W4WGQmWcrbs). Silahkan bandingkan sendiri.

Saya beruntung dapat merasakan nonton film ini di teater Imax secara 3D, sehingga suguhan spesial efek ikut terdukung dalam menikmati film ini, yang sudah tidak bisa dipungkiri, sangat canggih. Henry Cavill yang super ganteng, adalah nilai positif lain untuk Man of Steel. Saya rasa dia cocok memerankan Superman.

Kesimpulannya, film ini bagus dalam taraf box office, which means, film ringan yang asik ditonton rame-rame, dan untuk seseruan. Tidak terlalu deep dan fun. Tipikal film superhero-kah itu? Tidak juga. Teori film superhero itu tidak terlalu deep dan fun sudah dipatahkan mentah-mentah oleh trilogi Batman-nya Nolan.

Adegan favorit: Cerita Clark kepada Lois mengenai kematian ayahnya. Sangat mengharukan dan intense.




Melly Aprianty

Monday, March 18, 2013

Perfect Blue

1997 - Perfect Blue - Sutradara: Satoshi Kon


Setelah sekian lama tidak me-review, kemarin akhirnya saya mendapatkan film yang tepat untuk direview: Perfect Blue.

erfect Blue adalah sebuah anime bergenre psychological thriller. Menceritakan tentang seorang mantan Pop Idol yang melanjutkan karirnya ke film, bernama Mima. Mima memiliki fan base yang cukup kuat (seperti layaknya Pop Idol), namun ada salah satu fans yang “luar biasa” obsesi terhadapnya dan mulai mengganggu hidup Mima.

Dilain ke”gilaan” si fans, kegalauan Mima (sebenarnya saya benci dengan term galau) menjadikan dirinya bingung. Sangat bingung. Mungkin di lubuk hatinya terdalam dia masih ingin menjadi Pop Idol berimage manis, dan lugu. Berbeda dengan apa yang telah dia lakukan sekarang, yaitu menjalankan adegan-adegan panas pada filmnya, nude photo, dan lain-lain. Bahkan fansnya-pun menjadi benci dengan image barunya. Maka kebingungannya tersebut menimbulkan kejadian-kejadian aneh dalam hidupnya, termasuk karakter “aneh” dari masa lalunya ketika masih menjadi Pop Idol kadang suka muncul kembali di kepala Mima.

Saya tidak mau terlalu banyak cerita mengenai plotnya, karena film ini memiliki cukup banyak twist, dan menegangkan. Bagi kalian penggemar suspense-nya Hitchcock, cobalah tonton film yang satu ini. Durasinya hanya 1 jam 20 menitan, dan kalian akan mendapatkan tontonan yang asik.

Sedikit trivia, sutradara Hollywood Darren Aronofsky sangat terinspirasi dengan film ini sampai dia membeli rights-nya untuk mengambil adegan bath tub untuk filmnya Requiem for a Dream. Lalu film Black Swan garapannya juga sedikit banyak terasa kesamaannya dengan film Perfect Blue ini. Highly recommended film!




Melly Aprianty

Tuesday, January 8, 2013

Carpark North - Grateful

2008 - Grateful - Carpark North

Band electronic rock asal Denmark yang beranggotakan Lau Højen pada vokal, gitar, Søren Balsner pada bass, synthesizers dan Morten Thorhauge di drum ini sepertinya hanya populer dengan lagu Transparent and Glasslike pada album pertamanya yang berjudul Carpark North (2003).

Beralih ke album Grateful yang merupakan album ketiga mereka setelah All Things to All People (2005). Sepertinya ekplorasi sound elektronik yang membalut satu per satu lagu di album ini cukup rinci. Diawali dengan lagu More yang sangat menonjol suara synth-nya.

Shall We Be Grateful memiliki arti yang sangat dalam bagi kita (setidaknya saya) ditambah dengan bungkus suara-suara keyboard yang menyentuh perasaan dan tanpa menghilangkan unsur elektronika-nya. Lagu Save Me From Myself terasa sangat berhubungan dengan akhir dari lagu sebelumnya Shall We Be Grateful (I want you, Will you help me now), sebuah hubungan antar lirik lagu yang sangat cantik.

Carpark North sepertinya memang selalu membuat album dengan lirik yang dalam dan memiliki banyak makna akan kehidupan yang melankolis dan penuh dengan masalah emosional. Album ini memang Grateful untuk dikoleksi dan didengarkan.




Dhoni Saputra

Monday, January 7, 2013

Minuteman - What Makes A Man Starts A Fire

1983 - What Makes A Man Starts A Fire - Minuteman

Pertama ada Gregg Ginn, lalu ada Black Flag, lalu ada SST salah satu label rekaman influential, setelah itu SST merilis Minuteman, band yang nantinya akan menjadi legenda. Minuteman muncul ditengah boom hardcore punk awal 80-an dan berasal dari scene itu, tapi yang mereka mainkan jauh melewati apa yang dipersepsikan sebagai hardcore. Minutemen menulis lirik-lirik politik era akhir perang dingin dengan agresifitas punk, beat-beat funk, bassline yang dominan, dengan sensibilitas Captain Beefheart.

Sekarang kita akan membahas album mereka, What Makes A Man Starts A Fire, yang merupakan salah satu favorit saya. Apa yang membuat album ini begitu istimewa (setidaknya bagi saya)? 18 lagu dalam 26 menit 39 detik, dan setiap detiknya demikian berharga juga berisi. Trio Boon, Watt dan Hurley bermain sangat tight, lebih ketat daripada baju renang yang digunakan Kate Upton di swimsuit issue-nya Sports Illustrated. Disini Kita bisa dengarkan tiga instrumen saling berlomba siapa yang paling kuat, bukan masalah teknik seperti Dream Teather lakukan tetapi seperti berlomba siapa paling agresif.

Banyak yang bilang album ketiga mereka, Double Nickels On The Dime adalah magnum opus band asal San Pedro ini. Soal ambisi memang album tersebut (3 CD, 43 lagu) mengalahkan What Makes A Man Starts A Fire. Namun soal fokus dan gestur tepok dada sekencang-kencangnya, What Makes A Man Starts A Fire merupakan karya terbaik Minutemen.

Best Cut: Bob Dylan Wrote Propaganda Songs, Sell Or Be Sold, Life As A Rehearsal




Deni Taufiq Adi

Moonrise Kingdom

2012 - Moonrise Kingdom - Sutradara: Wes Anderson

Ini adalah film terbaik di tahun 2012 menurut saya. Walaupun saya sendiri baru menyaksikannya di awal tahun 2013 ini.

Bercerita tentang dua anak muda yang sama-sama mempunyai masalah di rumah mereka, lalu memutuskan untuk kabur dari rumah. Sam Shkakusky (Jared Gilman) adalah anggota Khaki Scout, dan Suzy Bishop (Kara Hayward) adalah anak sekolah biasa yang tidak bahagia dengan keluarganya. Ayahnya, ibunya, dan ketiga adik laki-lakinya.

Film ini menceritakan tentang perjuangan mereka di proses kabur tersebut, mengandalkan keahlian pramuka Sam di alam bebas. Juga sebaliknya, proses keluarga Suzy (Bill Murray, Frances McDormand), Island Police (Bruce Willis) dan Khaki Scout yang dipimpin Scout Master Ward (Edward Norton) dalam melakukan pencarian mereka.

Hal terbaik dalam film ini adalah gambar. Seperti dua film Wes Anderson lainnya yang pernah saya tonton, The Royal Tenenbaums, dan The Life Aquatic with Steve Zissou, gaya pewarnaan dan shot-shotnya kurang lebih sama. Setiap shot adalah indah. Sangat pantas untuk ditatap, discreenshot lalu dijadikan wallpaper di PC kalian. (In fact, saya mengalami kesulitan dalam memilih gambar untuk dipasang pada artikel ini). Settingnya membuat saya ingin ikut tinggal di New Penzance Island dan ikut camping bersama Khaki Scout.

Dari segi cerita, film ini memiliki cerita yang sangat manis, sekaligus melankolis. Percintaan muda antara Sam dan Suzy membuat selalu tersenyum, terutama ketika proses second base pertama mereka. Pertemuan mereka yang absurd, juga surat menyurat yang lucu. Semua diceritakan dengan cara quirky namun tetap dekat dengan kehidupan kita, dan menarik.

Moonrise Kingdom bisa dibilang adalah film dengan award material. Tapi menjadikan ini menjadi film favorit tidak membuat penggemarnya menjadi pretentious. Well, terserah saja yang mau mencap pretentious, snob, or whatever. This is a great movie!




Melly Aprianty

Featured Games

JuxtaReview © 2014 - Designed by Templateism.com, Plugins By MyBloggerLab.com